Bantu Nek Turah dan 249 Lansia Duafa di Sampang!

Category Ekonomi
KABUPATEN SAMPANG
NU Care-LAZISNU Sampang

Terkumpul

13.682.875

Dana Dibutuhkan

100.000.000

Open Goal
0 Hari Lagi
Share

Detail

Update

Donatur

Kebaikan-kebaikan yang orangtua berikan merupakan bentuk kasih sayang dan ketulusan atas rasa cintanya kepada kita sebagai anak-anaknya. Maka sudah selayaknya, kita berupaya membalas budi untuk menyayangi dan memuliakan mereka. Selain sebagai bentuk balas budi, berbakti kepada orangtua juga merupakan salah satu bentuk jihad yang dijelaskan dalam hadis berikut.

“Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash RA, seorang sahabat mendatangi Rasulullah Saw lalu meminta izin untuk berjihad. Rasulullah Saw bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ ‘Masih,’ jawabnya. Rasulullah Saw mengatakan, ‘Pada (perawatan) keduanya, berjihadlah,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Tentu kita mesti bersyukur dengan keadaan orangtua kita yang berada dalam kondisi sehat dan serba dalam kecukupan, apalagi jika kita mampu untuk merawat mereka dengan baik. Namun, ternyata di luar sana banyak orangtua di usia senja yang kesulitan bahkan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Salah satunya adalah Nek Turah, perempuan berusia 93 tahun asal Dusun Naro’an, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang Jawa Timur ini telah 25 tahun divonis buta yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter setempat. Sejak saat itu, dia terpaksa melewati hari-harinya dalam gelap gulita di rumahnya yang reot bersama anak semata wayangnya Mistiyah (72) yang juga telah berada di usia senja dan mulai sakit-sakitan.

Nek Turah disuapi anak semata wayangnya, Nek Mistiyah. (Dok. LAZISNU PCNU Sampang)

Kondisi lantainya yang hanya beralaskan tanah, mengakibatkan rumah Nek Turah terlihat becek. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu kini lapuk dan membuat Nek Turah dan sang anak merasa kedinginan setiap malam. Apalagi ketika musim hujan tiba, Nek Turah selalu diselimuti trauma, mengingat beberapa bulan yang lalu rumahnya sempat roboh. Untungnya, para tetangga gotong royong memperbaiki rumah tersebut dengan sumbangan seadanya. 

Selain itu, kedua lansia ini juga tidak memiliki kamar mandi. Yang ada hanyalah gentong kecil yang terletak tidak jauh dari tempat tidur. Sedangkan untuk buang hajat, Nek Turah dan Mistiyah terpaksa menumpang ke tetangga.

Kondisi ini semakin menyedihkan ketika Nek Turah hendak berwudhu dan menunaikan sholat. Dirinya yang buta dan renta harus dibantu oleh Mistiyah. Lantai yang licin karena percikan air memaksa Nek Turah harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh.

Nek Mistiyah selalu membantu sang ibunda, Nek Turah ketika hendak berwudhu. (Dok. LAZISNU PCNU Sampang)

Saat kami tanya, dari mana Nek Turah dan Mistiyah makan tiap hari? Nek Turah menjawab: 

“Ya dari pemberian tetangga, Pak. Kalau tidak ada yang ngasih makanan, kami hanya minum air putih dicampur dengan sedikit gula, insyaAllah tahan 1 hari. Bahkan kadang-kadang kami puasa. Mau gimana lagi, kondisinya sudah begini. Mau kerja, kami berdua sudah tidak kuat,” ujar Nek Turah sambil mengusap air mata.” ujarnya kepada Tim LAZISNU Sampang.

Tak hanya Nek Turah dan Nek Mistiyah, kondisi seperti ini juga dirasakan oleh lansia lainnya. Nek Rip, begitulah orang memanggilnya. Nenek berusia 78 tahun ini tinggal di rumah tua yang hampir roboh. Beberapa dinding pun harus ditopang bambu. Tempat tidur tanpa kasur yang sekaligus menjadi tempat sholat tampak penuh dengan debu. Perabotan-perabotan lusuh menghiasi gubuk tua milik nenek yang sudah bungkuk ini. Jika tidak segera dilakukan perbaikan, tentu akan mengancam keselamatan Nek Rip. Apalagi posisi tempat tidurnya berdekatan dengan dinding yang ditopang tersebut.

Nek Rip termenung dengan nasi tanpa lauk di tangannya. (Dok. LAZISNU PCNU Sampang)

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, sehari-hari Nek Rip memelihara ayam. Biasanya ayam yang sudah berumur 3 bulan akan dibeli tetangga seharga Rp30.000 s/d Rp40.000. Namun, sekarang ayamnya hanya tinggal beberapa saja karena seminggu yang lalu ayam-ayamnya banyak yang mati karena terserang penyakit. Ditambah lagi anak semata wayangnya yang pergi merantau sudah lama tidak ada kabar entah ke mana.

Kehidupan tiga lansia ini adalah contoh betapa menderitanya lansia duafa di luar sana, sementara masih ada 249 lainnya yang merasakan hal serupa di Sampang. Atas nama kemanusiaan, mari buka mata hati kita untuk membantu mereka dengan lebih layak, bukan hanya meminum air gula demi menyambung hidupnya.

Melalui campaign ini, kami LAZISNU Sampang kemudian akan bersilaturahmi, menyapa, dan menyalurkan bantuan berupa kebutuhan sehari-hari seperti sembako untuk membantu Nek Turah, Nek Mistiyah, Nek Rip, dan 249 lansia duafa lainnya di Sampang.

#SahabatPeduli dapat turut membantu mereka, dengan cara:

  1. Klik tombol “Donasi Sekarang”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Pilih metode pembayaran
  4. Isi data diri
  5. Klik "Lanjutkan Pembayaran" dan ikuti langkah selanjutnya

    Kontributor: Tim LAZISNU PCNU Sampang
    Editor:  Putri Azmi Millatie/ Wahyu Noerhadi
Penggalangan dana dimulai 29 September 2022 oleh:
NU Care-LAZISNU Sampang
Akun Terverifikasi

Total
17 Campaign
Tambahkan Program ini di halaman web Anda
Script berhasil dicopy

Yuk! Daftar untuk Mulai Ber - Donasi Membantu Sesama!

Bantu Nek Turah dan 249 Lansia Duafa di Sampang!

Bantu Nek Turah dan 249 Lansia Duafa di Sampang!

Kebutuhan Dana 100.000.000

Dana Terkumpul 13.682.875

Donatur

0 Hari lagi

NU Care-LAZISNU Sampang

Akun Terverifikasi

Deskripsi

Kebaikan-kebaikan yang orangtua berikan merupakan bentuk kasih sayang dan ketulusan atas rasa cintanya kepada kita sebagai anak-anaknya. Maka sudah selayaknya, kita berupaya membalas budi untuk menyayangi dan memuliakan mereka. Selain sebagai bentuk balas budi, berbakti kepada orangtua juga merupakan salah satu bentuk jihad yang dijelaskan dalam hadis berikut.

“Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash RA, seorang sahabat mendatangi Rasulullah Saw lalu meminta izin untuk berjihad. Rasulullah Saw bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ ‘Masih,’ jawabnya. Rasulullah Saw mengatakan, ‘Pada (perawatan) keduanya, berjihadlah,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Tentu kita mesti bersyukur dengan keadaan orangtua kita yang berada dalam kondisi sehat dan serba dalam kecukupan, apalagi jika kita mampu untuk merawat mereka dengan baik. Namun, ternyata di luar sana banyak orangtua di usia senja yang kesulitan bahkan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

Salah satunya adalah Nek Turah, perempuan berusia 93 tahun asal Dusun Naro’an, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang Jawa Timur ini telah 25 tahun divonis buta yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter setempat. Sejak saat itu, dia terpaksa melewati hari-harinya dalam gelap gulita di rumahnya yang reot bersama anak semata wayangnya Mistiyah (72) yang juga telah berada di usia senja dan mulai sakit-sakitan.

Nek Turah disuapi anak semata wayangnya, Nek Mistiyah. (Dok. LAZISNU PCNU Sampang)

Kondisi lantainya yang hanya beralaskan tanah, mengakibatkan rumah Nek Turah terlihat becek. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu kini lapuk dan membuat Nek Turah dan sang anak merasa kedinginan setiap malam. Apalagi ketika musim hujan tiba, Nek Turah selalu diselimuti trauma, mengingat beberapa bulan yang lalu rumahnya sempat roboh. Untungnya, para tetangga gotong royong memperbaiki rumah tersebut dengan sumbangan seadanya. 

Selain itu, kedua lansia ini juga tidak memiliki kamar mandi. Yang ada hanyalah gentong kecil yang terletak tidak jauh dari tempat tidur. Sedangkan untuk buang hajat, Nek Turah dan Mistiyah terpaksa menumpang ke tetangga.

Kondisi ini semakin menyedihkan ketika Nek Turah hendak berwudhu dan menunaikan sholat. Dirinya yang buta dan renta harus dibantu oleh Mistiyah. Lantai yang licin karena percikan air memaksa Nek Turah harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh.

Nek Mistiyah selalu membantu sang ibunda, Nek Turah ketika hendak berwudhu. (Dok. LAZISNU PCNU Sampang)

Saat kami tanya, dari mana Nek Turah dan Mistiyah makan tiap hari? Nek Turah menjawab: 

“Ya dari pemberian tetangga, Pak. Kalau tidak ada yang ngasih makanan, kami hanya minum air putih dicampur dengan sedikit gula, insyaAllah tahan 1 hari. Bahkan kadang-kadang kami puasa. Mau gimana lagi, kondisinya sudah begini. Mau kerja, kami berdua sudah tidak kuat,” ujar Nek Turah sambil mengusap air mata.” ujarnya kepada Tim LAZISNU Sampang.

Tak hanya Nek Turah dan Nek Mistiyah, kondisi seperti ini juga dirasakan oleh lansia lainnya. Nek Rip, begitulah orang memanggilnya. Nenek berusia 78 tahun ini tinggal di rumah tua yang hampir roboh. Beberapa dinding pun harus ditopang bambu. Tempat tidur tanpa kasur yang sekaligus menjadi tempat sholat tampak penuh dengan debu. Perabotan-perabotan lusuh menghiasi gubuk tua milik nenek yang sudah bungkuk ini. Jika tidak segera dilakukan perbaikan, tentu akan mengancam keselamatan Nek Rip. Apalagi posisi tempat tidurnya berdekatan dengan dinding yang ditopang tersebut.

Nek Rip termenung dengan nasi tanpa lauk di tangannya. (Dok. LAZISNU PCNU Sampang)

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, sehari-hari Nek Rip memelihara ayam. Biasanya ayam yang sudah berumur 3 bulan akan dibeli tetangga seharga Rp30.000 s/d Rp40.000. Namun, sekarang ayamnya hanya tinggal beberapa saja karena seminggu yang lalu ayam-ayamnya banyak yang mati karena terserang penyakit. Ditambah lagi anak semata wayangnya yang pergi merantau sudah lama tidak ada kabar entah ke mana.

Kehidupan tiga lansia ini adalah contoh betapa menderitanya lansia duafa di luar sana, sementara masih ada 249 lainnya yang merasakan hal serupa di Sampang. Atas nama kemanusiaan, mari buka mata hati kita untuk membantu mereka dengan lebih layak, bukan hanya meminum air gula demi menyambung hidupnya.

Melalui campaign ini, kami LAZISNU Sampang kemudian akan bersilaturahmi, menyapa, dan menyalurkan bantuan berupa kebutuhan sehari-hari seperti sembako untuk membantu Nek Turah, Nek Mistiyah, Nek Rip, dan 249 lansia duafa lainnya di Sampang.

#SahabatPeduli dapat turut membantu mereka, dengan cara:

  1. Klik tombol “Donasi Sekarang”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Pilih metode pembayaran
  4. Isi data diri
  5. Klik "Lanjutkan Pembayaran" dan ikuti langkah selanjutnya

    Kontributor: Tim LAZISNU PCNU Sampang
    Editor:  Putri Azmi Millatie/ Wahyu Noerhadi

Kabar Terbaru

Belum ada kabar terbaru

Donatur