Mari Bangun kembali Jembatan Cawiri di Pelosok Tasikmalaya!

Category Kemanusiaan
KABUPATEN TASIKMALAYA
NU CARE-LAZISNU

Terkumpul

5.452.000

Dana Dibutuhkan

100.000.000

Open Goal
92 Hari Lagi
Share

Detail

Update

Donatur

Adalah Pak Soib (75 thn), seorang petani yang saban hari bekerja menyadap nira di kebunnya. Untuk pergi ke kebun, Pak Soib butuh perjuangan, yang bahkan dapat mengancam keselamatannya. Pasalnya, Pak Soib ini tiap harinya mesti melewati jembatan lapuk berbahan bambu, yang dibangun secara swadaya oleh warga. Dan, di bawah jembatan yang sudah rapuh itu mengalir arus sungai yang begitu deras.

Jembatan itu adalah Jembatan Cawiri, yang dibangun di atas sungai Cikaengan sebagai akses dua kabupaten, yaitu Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Tepatnya, sebagai penghubung Desa Campakasari Kecamatan Bojonggambir, Tasikmalaya dengan Desa Simpang Kecamatan Cibalong di Kabupaten Garut.

Jembatan Cawiri sangat penting keberadaannya bagi warga, karena digunakan tidak hanya sebagai akses dua desa di dua kabupaten saja, tetapi juga sebagai akses ekonomi, pendidikan, dan kegiatan sosial lainnya.

Lalu bagaimana jika jembatan yang memiliki panjang 85 meter dengan lebar 1,5 meter itu ambruk? Tentu akan membahayakan keselamatan warga yang sedang melintasinya, dan pasti akan berpengaruh pada akses kegiatan warga. Sementara akses atau jalan alternatif yang ada, berjarak tempuh 5 kilometer. Dengan kondisi jalan yang sangat rusak. Alternatif itu pun sulit dijangkau warga, karena keterbatasan alat transportasi.

Disampaikan oleh Relawan Perangkat Desa Campakasari, Ina Nabila (28 thn), bahwa kondisi Desa Campakasari sendiri berada di pelosok dan belum tersentuh bantuan infrastruktur, sehingga menyebabkan daerah ini termasuk daerah tertinggal dalam IDM (Indeks Desa Membangun). Dan masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai petani.

“Sudah dari Agustus 2020 saya membersamai masyarakat di sini. Dari ujung Cihurip sampai Cimenga (dua dusun yang berada di Desa Campakasari) sudah saya kunjungi. Jalan utama Campakasari ini berstatus jalan kabupaten. Mirisnya jalan ini hanya 20 persen yang layak pakai dan hingga kini belum kunjung diperbaiki. Tak hanya jalanan, jembatan di sini juga sangat membahayakan bagi para penggunanya. Saking menyeramkannya, terkadang saya lebih memilih untuk berjalan kaki dan meninggalkan motor saya di tepian sungai,” ujar Ina, saat mengubungi Tim NU Care-LAZISNU via Direct Message Instagram, awal Agustus 2021.

Tak hanya sekali, Ina Nabila juga sering mengalami kejadian-kejadian tidak menyenangkan selama melewati jembatan itu.

“Mungkin saya hanyalah salah satu pengguna jembatan yang mengalami keapesan. Berkali-kali saya melewati jembatan tersebut dan ada saja kendalanya seperti terjatuh dari motor, putus rantai, mesin ngebul, busi mati, ban kempes, patah gear sampai kendala-kendala lainnya. Khawatirnya, saat sedang melintasi jembatan, bagaimana kalau jembatan itu ambruk?” Imbuhnya.

Ina juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah melihat langsung ada seorang warga yang menyeberangi jembatan hanya melalui besi pegangannya saja. Ada juga warga yang terpaksa menggendong anaknya di pundak agar tidak terjatuh.

Wanita yang sedang mengabdi di Desa Campakasari ini berharap ada orang baik yang mau memberikan bantuan untuk memperbaiki jembatan tersebut. Untuk itu, mari bersama bantu warga Desa Campakasari mendapatkan akses jembatan yang layak, dengan cara:

  1. Klik tombol “Donasi Sekarang”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Isi data diri
  4. Pilih metode pembayaran
  5. Klik “Lanjutkan Pembayaran” dan ikuti langkah selanjutnya
  6. Dapatkan laporan via email 
     
Penggalangan dana dimulai 25 August 2021 oleh:
NU CARE-LAZISNU
Akun Terverifikasi

Total
58 Campaign
Tambahkan Program ini di halaman web Anda
Script berhasil dicopy

Yuk! Daftar untuk Mulai Ber - Donasi Membantu Sesama!

Mari Bangun kembali Jembatan Cawiri di Pelosok Tasikmalaya!

Mari Bangun kembali Jembatan Cawiri di Pelosok Tasikmalaya!

Terkumpul 5.452.000
Dana Dibutuhkan 100.000.000
NU CARE-LAZISNU Akun Terverifikasi

Adalah Pak Soib (75 thn), seorang petani yang saban hari bekerja menyadap nira di kebunnya. Untuk pergi ke kebun, Pak Soib butuh perjuangan, yang bahkan dapat mengancam keselamatannya. Pasalnya, Pak Soib ini tiap harinya mesti melewati jembatan lapuk berbahan bambu, yang dibangun secara swadaya oleh warga. Dan, di bawah jembatan yang sudah rapuh itu mengalir arus sungai yang begitu deras.

Jembatan itu adalah Jembatan Cawiri, yang dibangun di atas sungai Cikaengan sebagai akses dua kabupaten, yaitu Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Tepatnya, sebagai penghubung Desa Campakasari Kecamatan Bojonggambir, Tasikmalaya dengan Desa Simpang Kecamatan Cibalong di Kabupaten Garut.

Jembatan Cawiri sangat penting keberadaannya bagi warga, karena digunakan tidak hanya sebagai akses dua desa di dua kabupaten saja, tetapi juga sebagai akses ekonomi, pendidikan, dan kegiatan sosial lainnya.

Lalu bagaimana jika jembatan yang memiliki panjang 85 meter dengan lebar 1,5 meter itu ambruk? Tentu akan membahayakan keselamatan warga yang sedang melintasinya, dan pasti akan berpengaruh pada akses kegiatan warga. Sementara akses atau jalan alternatif yang ada, berjarak tempuh 5 kilometer. Dengan kondisi jalan yang sangat rusak. Alternatif itu pun sulit dijangkau warga, karena keterbatasan alat transportasi.

Disampaikan oleh Relawan Perangkat Desa Campakasari, Ina Nabila (28 thn), bahwa kondisi Desa Campakasari sendiri berada di pelosok dan belum tersentuh bantuan infrastruktur, sehingga menyebabkan daerah ini termasuk daerah tertinggal dalam IDM (Indeks Desa Membangun). Dan masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai petani.

“Sudah dari Agustus 2020 saya membersamai masyarakat di sini. Dari ujung Cihurip sampai Cimenga (dua dusun yang berada di Desa Campakasari) sudah saya kunjungi. Jalan utama Campakasari ini berstatus jalan kabupaten. Mirisnya jalan ini hanya 20 persen yang layak pakai dan hingga kini belum kunjung diperbaiki. Tak hanya jalanan, jembatan di sini juga sangat membahayakan bagi para penggunanya. Saking menyeramkannya, terkadang saya lebih memilih untuk berjalan kaki dan meninggalkan motor saya di tepian sungai,” ujar Ina, saat mengubungi Tim NU Care-LAZISNU via Direct Message Instagram, awal Agustus 2021.

Tak hanya sekali, Ina Nabila juga sering mengalami kejadian-kejadian tidak menyenangkan selama melewati jembatan itu.

“Mungkin saya hanyalah salah satu pengguna jembatan yang mengalami keapesan. Berkali-kali saya melewati jembatan tersebut dan ada saja kendalanya seperti terjatuh dari motor, putus rantai, mesin ngebul, busi mati, ban kempes, patah gear sampai kendala-kendala lainnya. Khawatirnya, saat sedang melintasi jembatan, bagaimana kalau jembatan itu ambruk?” Imbuhnya.

Ina juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah melihat langsung ada seorang warga yang menyeberangi jembatan hanya melalui besi pegangannya saja. Ada juga warga yang terpaksa menggendong anaknya di pundak agar tidak terjatuh.

Wanita yang sedang mengabdi di Desa Campakasari ini berharap ada orang baik yang mau memberikan bantuan untuk memperbaiki jembatan tersebut. Untuk itu, mari bersama bantu warga Desa Campakasari mendapatkan akses jembatan yang layak, dengan cara:

  1. Klik tombol “Donasi Sekarang”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Isi data diri
  4. Pilih metode pembayaran
  5. Klik “Lanjutkan Pembayaran” dan ikuti langkah selanjutnya
  6. Dapatkan laporan via email