Aceh Tamiang, NU Care
Tak ada yang menyangka, hujan lebat yang turun hampir sepekan di Aceh membawa dampak yang jauh melampaui banjir bandang 2006. Air bercampur lumpur merendam pemukiman warga hingga lebih dari dua meter, menenggelamkan rumah, fasilitas umum, dan memaksa ribuan orang mengungsi ke dataran yang lebih tinggi.
Di tengah keterbatasan, warga berupaya menyelamatkan diri dengan cara-cara sederhana. Anak-anak diedukasi soal keselamatan, sementara pelampung darurat dibuat dari barang bekas seperti botol plastik, bola, hingga toples.
Upaya itu dilakukan bukan karena siap, tapi karena keadaan memaksa.
Multazam, warga yang rumahnya kini menjadi Posko NU Peduli Aceh Tamiang, menceritakan bagaimana ia harus bertindak cepat demi keselamatan keluarganya. Saat banjir lumpur meninggi, ia mengajarkan anak bungsunya yang berusia 12 tahun untuk memegang erat pelampung buatan sendiri.
"Air naik sangat cepat, lumpurnya sudah lebih dari dua meter. Pelampung itu kami buat seadanya, yang penting anak saya bisa bertahan,” ungkap Multazam sambil menunjukkan pelampung buatannya saat perbincangan pada akhir Desember 2025.
Kepala Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Datuk Hairi, menjelaskan bahwa warga sebenarnya sudah melakukan mitigasi berdasarkan pengalaman banjir besar 2006. Barang-barang dipindahkan ke tempat yang sebelumnya tidak terjangkau air. Namun, perkiraan itu salah.
"Kami berpatokan pada tinggi banjir 2006. Barang-barang sudah dinaikkan, tapi kali ini banjir lumpur justru melebihi rumah. Dari atas, yang terlihat hanya tiang listrik dan kubah masjid,” kata Hairi.
Di Desa Sukajadi, Kecamatan Rantau, kakak beradik Siti Jamaliah binti Muhammad Aik (71) dan Sahara (70) menjadi saksi betapa cepatnya situasi berubah. Ketika Tim NU Peduli melintas, keduanya hanya meminta satu hal, yaitu air bersih.
Siti Jamaliah menceritakan bahwa hari itu warga sudah saling berteriak memberi peringatan ketika air dan lumpur masuk ke rumah setinggi pinggang orang dewasa.
“Selepas banjir surut, rumah penuh lumpur, saya tidak sanggup membersihkan sendiri. Akhirnya minta bantuan orang lain, dan tabungan saya tiga juta habis untuk bersih-bersih,” tutur Siti dengan raut muka lelah, karena dirinya juga harus membersihkan lumpur hingga berhari-hari.
Siti juga menyaksikan langsung RSUD Aceh Tamiang di seberang rumahnya ikut terendam.
"Peralatan medis rusak, bahkan ada jenazah yang terkubur lumpur,” imbuh Siti.
Adiknya, Sahara, seorang guru ngaji, kehilangan hampir seluruh perlengkapan mengajarnya.
“Buku-buku bahasa Arab, Al-Qur’an, semua rusak. Sekarang kegiatan mengaji terhenti, belum tahu sampai kapan,” ujarnya lirih.
Tim Posko Desa Babo Zikria Fitri menjelaskan bahwa bantuan terus mengalir, termasuk dari NU Care-LAZISNU dan BPKH RI. Namun kebutuhan di lapangan masih sangat besar.
“Setiap hari kami membagikan sekitar 500 sampai 520 paket sembako, hygiene kit, dan obat-obatan. Sekitar 90 persen warga sudah tidak punya rumah dan mengungsi ke bukit,” jelas Fitri.
Diirnya juga menambahkan, menjelang Ramadhan, kebutuhan justru semakin meningkat dan kondisinya banyak masyarakat yang sakit.
“Debu di mana-mana, kami sangat butuh masker, obat-obatan, dan air bersih. Banyak warga yang sakit. Untuk pulih seperti setelah banjir 2006 saja butuh satu sampai dua tahun, sedangkan ini lebih parah. Rasanya seperti tsunami kedua,” imbuh Fitri.
Upaya penyediaan air bersih juga dilakukan oleh PCNU Kota Langsa. Dr. Tgk. T. Wildan, MA, Ketua PCNU Kota Langsa sekaligus Pengasuh Dayah Raudhatun Najah, menyampaikan bahwa distribusi air bersih menjadi prioritas utama.
“Kami menempatkan 3 tangki air berkapasitas 1.200 liter di masjid dan pesantren strategis di Manyak Payed, Bendahara, dan Kuala Simpang. Satu tangki bisa mencukupi ratusan jiwa selama seminggu,” jelasnya.
Menurutnya, tangki air ini tidak hanya untuk kondisi darurat., tapi berkelanjutan.
“Tangki akan tetap dimanfaatkan setelah banjir surut, untuk wudhu, memasak, dan sanitasi. Di Kuala Simpang, kami tempatkan di sekitar kantor PCNU Aceh Tamiang dan masjid-masjid agar mudah diakses pengungsi,” jelas Wildan.
“Ada seorang ibu yang akhirnya bisa memasak makanan hangat untuk anak-anaknya setelah berminggu-minggu bergantung pada air sungai yang tercemar,” ungkap Wildan sambil mengenang satu momen sederhana namun menyentuh.
Selain air bersih, bantuan logistik seperti sembako, selimut, obat-obatan, dan perlengkapan sanitasi juga disalurkan. Tak terkecuali, pendampingan pasca-bencana akan menjadi perhatian serius.
“Kami dorong dukungan psikososial oleh ulama dan psikolog relawan NU, serta pelatihan penguatan ekonomi agar warga tidak terus rentan,” lanjut Wildan.
Wildan juga menceritakan kondisi di lapangan yang hingga kini masih memprihatinkan. Lumpur tebal menyulitkan akses, ribuan keluarga bertahan di tenda darurat, risiko penyakit meningkat, anak-anak kehilangan akses pendidikan, dan lansia kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.
“Harapan kami, masyarakat Aceh Tamiang bisa kembali hidup normal, bahkan lebih baik dari sebelumnya,” tutupnya.
Dukung pemulihan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak bencana melalui laman https://nucare.id/program/pedulibencana.
Pewarta: Zahra
Editor: Kendi Setiawan

