Jakarta, Care
Selain melaporkan berbagai kegiatan penanganan dampak banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera dan Aceh, para relawan serta pengelola Posko NU Peduli juga melakukan pemetaan kebutuhan lanjutan masyarakat terdampak bencana.
Fokus penanganan tidak hanya diarahkan pada bantuan darurat, tetapi juga pada upaya pemulihan jangka menengah, terutama penyediaan air bersih, hunian sementara (huntara), pemulihan pesantren, serta penciptaan sumber penghidupan baru bagi warga terdampak.
Relawan Posko NU Peduli Bencana Aceh Barat, Ummi Hanisa, menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak masyarakat saat ini meliputi ketersediaan air bersih, pembangunan sumur bor, fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK), serta penyediaan listrik dan penerangan di wilayah terdampak.
Sementara itu, Yusuf dari PCNU Aceh Singkil mengungkapkan bahwa sejumlah pesantren masih membutuhkan perhatian serius.
“Kami membutuhkan perlengkapan pesantren seperti seragam, kitab, serta bantuan rekonstruksi bangunan,” ujarnya saat Rapat Koordinasi Penanganan Bencana NU Peduli yang diinisiasi oleh NU Care-LAZISNU PBNU secara daring, Jumat (9/01/2026).
Hal senada disampaikan Moch Suaidi dari Bener Meriah. Ia menyebut perlunya alat-alat pembersihan serta bantuan pemulihan untuk pesantren NU yang mengalami kerusakan berat, salah satunya Pondok Pesantren Bustanul Ulum.
Dari Sumatera Utara, Sekretaris LAZISNU Padangsidimpuan, Ali Akbar Siregar, melaporkan bahwa wilayahnya masih membutuhkan fasilitas MCK, khususnya di sekitar sekolah dan permukiman warga.
Selain itu, di Kabupaten Tapanuli Tengah, kebutuhan mendesak meliputi sembako, perlengkapan sekolah bagi anak-anak, serta perbaikan bangunan.
Persoalan ekonomi juga menjadi perhatian serius. Sultan Herakli dari PCNU Aceh Tamiang menegaskan bahwa banyak warga kehilangan mata pencaharian akibat bencana.
“Masyarakat membutuhkan pekerjaan baru untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Hal tersebut diperkuat laporan relawan NU Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Yuhendra. Ia menyampaikan bahwa para pengungsi tengah bersiap pindah ke hunian sementara, namun membutuhkan dukungan ekonomi karena sawah dan lahan pertanian sudah tidak dapat digunakan.
“Selain pekerjaan baru, warga juga membutuhkan air bersih dan sumur bor,” kata Yuhendra.
Dari Aceh Tengah, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Musliadi Rishna melaporkan bahwa distribusi bantuan selanjutnya akan dilakukan di Kecamatan Linge. Ia juga menekankan pentingnya dukungan perlengkapan identitas bagi relawan yang bertugas di lapangan.
Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, Riri Khariroh, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan ke depan akan difokuskan pada sejumlah wilayah prioritas.
Di Sumatera Utara, bantuan menyasar Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, sementara di Sumatra Barat difokuskan pada Kabupaten Agam dan Tanah Datar.
“Sementara di Aceh, bantuan akan diarahkan ke pesantren serta titik-titik terdampak lainnya yang masih dalam tahap pembahasan,” ujarnya.
Menjelang bulan Ramadhan, Riri menambahkan bahwa program bantuan NU Care-LAZISNU akan difokuskan pada penanganan bencana, pemulihan pesantren, kegiatan dakwah, pemberdayaan ekonomi, serta pemenuhan kebutuhan air bersih, dengan prioritas utama bagi kelompok rentan.
Ia juga menekankan pentingnya pelaporan yang transparan dan akuntabel.
“Pelaporan harus dibuat sebaik mungkin untuk membangun kepercayaan publik terhadap LAZISNU,” tegasnya.
NU Care-LAZISNU menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat terdampak bencana melalui kerja kolaboratif, responsif, dan berkelanjutan, sebagai wujud khidmah Nahdlatul Ulama di bidang kemanusiaan.
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Wahyu Noerhadi

