Suasana pasar tradisional Daejeon, Korsel pada Ramadhan 1446 Hijriah (Foto: Roys Qaribilla)

Bagikan:  

Menelusuri Jejak Sejarah Pasar Tradisional Daejeon: Dari Joseon hingga Abad 21

By Kendi Setiawan

17/03/2025

116 kali dilihat

Daejeon, NU Care
Senin, tanggal 17 Maret 2025 sekitar pukul 16.00 waktu Korea Selatan, sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami melancong ke pasar tradisional terbesar di Kota Daejeon. Saya ditemani oleh ketiga orang yang berasal dari Indonesia, yang bernama yaitu Mas Rico, Mas Johan, dan Mas Luthfi. Mereka semua sudah cukup lama tinggal dan bekerja di Korea Selatan.

Pasar ini Korea memiliki sejarah yang terkait erat dengan perkembangan ekonomi dan budaya kota tersebut. Pasar ini berjarak kurang lebih 300 meter dari Masjid An-Noor Daejeon, yang merupakan salah satu pasar terbesar di Korea Selatan.

Pasar itu telah mengalami transformasi yang signifikan dari pasar tradisional menjadi pusat perdagangan modern, meskipun pasar tradisional masih tetap mempertahankan nilai budaya dan ekonomi yang penting.

Sejarah Pasar Tradisional di Daejeon:

1. Masa Dinasti Joseon (1392–1910)
Pada masa Dinasti Joseon, Daejeon adalah sebuah kota kecil yang tidak terlalu berkembang pesat. Namun, pasar lokal yang sederhana sudah mulai muncul, terutama di area yang sekarang dikenal dengan nama Jungang Market. Pada masa ini, pasar-pasar tersebut biasanya berfokus pada pertanian dan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang diperdagangkan oleh para petani lokal.

2. Era Kolonial Jepang (1910-1945)
Selama era penjajahan Jepang, Korea Selatan, termasuk Daejeon, mengalami perubahan signifikan dalam struktur ekonomi dan perdagangan. Pasar-pasar tradisional di Daejeon berkembang lebih pesat sebagai pusat distribusi barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, perdagangan mulai melibatkan berbagai komoditas yang lebih beragam, dan para pedagang lokal mulai memperkenalkan produk-produk dari berbagai daerah di Korea dan Jepang.

3. Setelah Perang Korea (1950-1953)

Daejeon menjadi pusat ekonomi dan administrasi penting, karena posisinya yang strategis di bagian tengah Korea. Pasar-pasar tradisional di kota ini menjadi vital dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang dalam pemulihan pasca perang.

Pasar-pasar seperti Jungang Market dan Daejeon Tongyeong Market menjadi tempat utama untuk membeli barang-barang pokok dan makanan.

4. Dekade 1970-an hingga 1980-an
Pada periode ini, dengan urbanisasi dan industrialisasi yang pesat di Korea Selatan, Daejeon juga mengalami perubahan besar. Pasar-pasar tradisional tetap eksis, namun mereka mulai bersaing dengan pusat perbelanjaan modern dan supermarket.

Meskipun begitu, banyak orang masih mengandalkan pasar tradisional untuk mendapatkan barang segar dengan harga lebih murah.

5. Abad 21
Di abad ke-21, pasar tradisional di Daejeon masih terus hidup meskipun ada perkembangan pusat perbelanjaan modern dan mall.

Pasar tradisional seperti Jungang Market dan Seongdong Market tetap mempertahankan daya tariknya sebagai tempat di mana pengunjung dapat menemukan produk-produk lokal segar, makanan tradisional Korea, dan barang-barang khas Korea Selatan. Pasar-pasar ini menjadi daya tarik wisata bagi para pelancong yang ingin merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea.

6. Pasar Modern dan Inovasi:
Seiring berjalannya waktu, beberapa pasar tradisional di Daejeon mulai berinovasi dengan menyediakan fasilitas modern, seperti area makanan siap saji, tempat belanja yang lebih teratur, dan bahkan penggunaan teknologi dalam sistem pembayaran.

Mereka beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang lebih modern tetapi tetap mempertahankan nuansa tradisional mereka.

Roys Qaribilla, Dai internasinal LD PBNU 2025 dengan penugasa di Korea Selatan. Program ini bekerja sama dengan NU Care-LAZISNU
Editor: Kendi Setiawan

Dakwah
Ekonomi
Pasar
Ramadhan
Korea Selatan
Dakwah
Ekonomi
Pasar
Ramadhan
Korea Selatan

Berita Lainnya