Keterbatasan Sarana Belajar, Mari Bantu Ahmad dan Santri Yatim Lainnya!

Category Pendidikan
KABUPATEN SAMPANG
NU Care-LAZISNU Sampang

Terkumpul

4.356.582

Dana Dibutuhkan

100.000.000

Open Goal
45 Hari Lagi
Share

Detail

Update

Donatur

Semenjak usianya baru 5 tahun, Ahmad Ali Zamzami Samsi terpaksa menjadi seorang yatim karena sang ayah, Nur Samsi yang berprofesi sebagai tukang pijat, mengidap penyakit stroke dan meninggal dunia. Kini usia Ahmad sudah 14 tahun, dan tengah menimba ilmu dengan menjadi santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang bersama 3.000 santri lainnya.

Ahmad Ali sedang membaca Al Qur'an

Ahmad merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ibunya, Siti Nadofah (41) harus berjuang sendiri untuk menghidupi lima buah hatinya dengan menjajakan makanan ringan di warung dekat rumahnya. Tiap harinya, penghasilan sang ibu hanya berkisar Rp 15.000. Tentu itu sama sekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya bersama anak-anaknya. Namun, di tengah keterbatasannya, ada mimpi seorang Ibu yang menginginkan anaknya dapat menjadi seorang ustad, sehingga ilmunya dapat bermanfaat dunia-akhirat.

“Kata Ibu, Ibu pengen aku jadi ustad, agar bisa berguna membagikan ilmu buat orang lain, baik dunia maupun akhirat,” ucap Ahmad, saat Tim NU Care-LAZISNU Sampang mengunjunginya, pada 13 Maret 2021.

Namun saat sedang ditemui, beberapa kali Ahmad melirik teman-temannya yang sedang dijenguk oleh keluarganya. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca dan meneteskan airmata.

“Aku pengen kayak temen-temen, Pak. Bisa dijenguk sama orangtuanya lengkap. Ada bapak, ada ibu, bawa makanan, dan bisa makan bareng. Tapi itu udah nggak mungkin, ‘kan Bapak udah nggak ada,” jelasnya, dengan sesenggukkan.

Tak hanya rindu dengan sang ayah, Ahmad juga terkadang merasa kasihan dengan ibunya yang harus menanggung hidup kelima anaknya seorang diri, membiayai keperluan sekolah.

Ahmad, yang bertempat tinggal di Jl Gatot Koco, Desa Kolpajung, Pamekasan, Madura, Jawa Timur ini pun tidak hanya terbiasa menahan lapar, tetapi juga terpaksa meminjam alat-alat belajar seperti kitab dan lainnya kepada temannya. Sebab, ia tak bisa membelinya.

“Kalau untuk belajar sih, selama ini saya pinjam ke temen sekamar, Pak. Ya, itu pun kalau kitab dan yang lainnya tidak sedang dipakai. Kalau sedang dipakai, ya saya harus menunggu,” kata Ahmad.

Ahmad adalah salah satu santri yatim duafa yang perlu kita bantu. Di luar sana, masih banyak Ahmad-Ahmad lainnya yang memerlukan uluran tangan kita dalam mencapai cita-citanya.

Untuk itu, NU Care-LAZISNU Sampang mengajak seluruh masyarakat untuk membantu para santri yatim duafa yang tersebar di berbagai pondok pesantren di Sampang, di antaranya di Pondok Pesantren Paramian Kecamatan Sreseh, dan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, di Kecamatan Robatal. Kita dapat membantu mereka dan menyalurkan bantuan, dalam bentuk:

  1. Bantuan Biaya Pendidikan
  2. Bantuan Sembako
  3. Santunan (uang saku)
  4. Belanja Kitab

Mari bersama bantu Ahmad dan santri yatim duafa lainnya, agar dapat tumbuh dan belajar dengan baik. Caranya:

  1. Klik tombol “Donasi Sekarang”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Isi data diri
  4. Pilih metode pembayaran
  5. Klik “Lanjutkan Pembayaran” dan ikuti langkah selanjutnya
  6. Dapatkan laporan via email
Penggalangan dana dimulai 5 October 2021 oleh:
NU Care-LAZISNU Sampang
Akun Terverifikasi

Total
12 Campaign
Tambahkan Program ini di halaman web Anda
Script berhasil dicopy

Yuk! Daftar untuk Mulai Ber - Donasi Membantu Sesama!

Keterbatasan Sarana Belajar, Mari Bantu Ahmad dan Santri Yatim Lainnya!

Keterbatasan Sarana Belajar, Mari Bantu Ahmad dan Santri Yatim Lainnya!

Terkumpul 4.356.582
Dana Dibutuhkan 100.000.000
NU Care-LAZISNU Sampang Akun Terverifikasi

Semenjak usianya baru 5 tahun, Ahmad Ali Zamzami Samsi terpaksa menjadi seorang yatim karena sang ayah, Nur Samsi yang berprofesi sebagai tukang pijat, mengidap penyakit stroke dan meninggal dunia. Kini usia Ahmad sudah 14 tahun, dan tengah menimba ilmu dengan menjadi santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Gersempal, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang bersama 3.000 santri lainnya.

Ahmad Ali sedang membaca Al Qur'an

Ahmad merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ibunya, Siti Nadofah (41) harus berjuang sendiri untuk menghidupi lima buah hatinya dengan menjajakan makanan ringan di warung dekat rumahnya. Tiap harinya, penghasilan sang ibu hanya berkisar Rp 15.000. Tentu itu sama sekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya bersama anak-anaknya. Namun, di tengah keterbatasannya, ada mimpi seorang Ibu yang menginginkan anaknya dapat menjadi seorang ustad, sehingga ilmunya dapat bermanfaat dunia-akhirat.

“Kata Ibu, Ibu pengen aku jadi ustad, agar bisa berguna membagikan ilmu buat orang lain, baik dunia maupun akhirat,” ucap Ahmad, saat Tim NU Care-LAZISNU Sampang mengunjunginya, pada 13 Maret 2021.

Namun saat sedang ditemui, beberapa kali Ahmad melirik teman-temannya yang sedang dijenguk oleh keluarganya. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca dan meneteskan airmata.

“Aku pengen kayak temen-temen, Pak. Bisa dijenguk sama orangtuanya lengkap. Ada bapak, ada ibu, bawa makanan, dan bisa makan bareng. Tapi itu udah nggak mungkin, ‘kan Bapak udah nggak ada,” jelasnya, dengan sesenggukkan.

Tak hanya rindu dengan sang ayah, Ahmad juga terkadang merasa kasihan dengan ibunya yang harus menanggung hidup kelima anaknya seorang diri, membiayai keperluan sekolah.

Ahmad, yang bertempat tinggal di Jl Gatot Koco, Desa Kolpajung, Pamekasan, Madura, Jawa Timur ini pun tidak hanya terbiasa menahan lapar, tetapi juga terpaksa meminjam alat-alat belajar seperti kitab dan lainnya kepada temannya. Sebab, ia tak bisa membelinya.

“Kalau untuk belajar sih, selama ini saya pinjam ke temen sekamar, Pak. Ya, itu pun kalau kitab dan yang lainnya tidak sedang dipakai. Kalau sedang dipakai, ya saya harus menunggu,” kata Ahmad.

Ahmad adalah salah satu santri yatim duafa yang perlu kita bantu. Di luar sana, masih banyak Ahmad-Ahmad lainnya yang memerlukan uluran tangan kita dalam mencapai cita-citanya.

Untuk itu, NU Care-LAZISNU Sampang mengajak seluruh masyarakat untuk membantu para santri yatim duafa yang tersebar di berbagai pondok pesantren di Sampang, di antaranya di Pondok Pesantren Paramian Kecamatan Sreseh, dan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, di Kecamatan Robatal. Kita dapat membantu mereka dan menyalurkan bantuan, dalam bentuk:

  1. Bantuan Biaya Pendidikan
  2. Bantuan Sembako
  3. Santunan (uang saku)
  4. Belanja Kitab

Mari bersama bantu Ahmad dan santri yatim duafa lainnya, agar dapat tumbuh dan belajar dengan baik. Caranya:

  1. Klik tombol “Donasi Sekarang”
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Isi data diri
  4. Pilih metode pembayaran
  5. Klik “Lanjutkan Pembayaran” dan ikuti langkah selanjutnya
  6. Dapatkan laporan via email