Bangun SD Al Ma'arif di Papua

Bangunan SD Al Ma'arif 1 Klabinain di Sorong Papua hanya terbuat dari balok kayu. Kini bangunan itu makin rapuh dan hampir roboh.

0%
telah terkumpul untuk target
Rp. 300.000.000
Program donasi telah berakhir.


BANGUN SD AL MAARIF DI SORONG PAPUA YANG HAMPIR ROBOH

Bangunan SD Al Maarif 1 Klabinain hanya terbuat dari balok kayu. Kini bangunan itu makin rapuh dan hampir roboh. Meski begitu, semangat belajar anak-anak suku Kokoda terus bersinar laksana cahaya mentari dari ufuk timur.

SD Al Ma’arif 1 Klabinain terletak di Kelurahan Maibo Kecamatan Aimas Kabupaten Sorong Papua Barat. SD ini adalah sekolah darurat yang dibangun karena adanya perpindahan suku Kokoda ke Maibo. Sekolah darurat ini didirikan atas inisiatif penduduk setempat—suku Kokoda—bersama para pengurus NU setempat supaya anak-anak suku Kokoda bisa tetap melanjutkan pendidikan.

Sejak awal didirikan, kondisi sekolah SD Al Ma’arif 1 Klabinain ini sangat memprihatinkan. Lantai sekolah masih beralaskan tanah. Dinding sekolah hanya terbuat dari balok kayu. Itupun dengan bahan kayu yang minim sehingga bangunan tak tertutup sempurna. Celah dinding kayu yang menganga lebar itu membuat angin dan debu silih berganti masuk. Belum lagi atap bangunan yang tak mampu menutupi langit-langit madrasah secara utuh, maka ketika hujan turun sudah dipastikan lantai yang masih beralaskan tanah liat itu becek penuh lumpur. Kursi dan bangku sekolah juga turut menyesuaikan cuaca. Kondisi seperti ini kerap menjadikan jam belajar harus diliburkan.

Seorang siswa di ruang kelas SD Al Ma'arif Papua

“Bangunan reyot itu setiap harinya tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar sekolah. Ketika menjelang sore hari, siswa-siswi SD Al Ma’arif itu mengaji Al Qur’an di tempat tersebut,” kisah Pak Usman selaku pengajar.

Bangunan madrasah hanya memiliki tiga ruangan yang disekat dengan dinding kayu. Sekat pertama dipakai untuk jenjang kelas 1 dan kelas 2. Sekat kedua dipakai untuk jenjang kelas 3 dan 4. Sedangkan sekat ketiga untuk jenjang kelas 5 dan 6. Tak ada ruang guru, apalagi perpustakaan. Lebih parah lagi, belum tersedia toilet untuk siswa maupun pengajar.

Bangunan SD Al Ma'arif tampak luar

Bustanin, salah satu anak didik SD Al Ma’arif yang kini duduk di kelas 5 bercerita kalau ruang kelasnya sering dimasuki debu dan juga rontokan dedaunan. Tak jarang ketika ia sedang menulis, buku tulisnya kotor dihinggapi debu. Apalagi jika rintik hujan mulai berjatuhan, tak hanya buku tulisnya yang basah, sekujur tubuhnya bisa turut basah kuyup.

Meskipun dengan kondisi serba kekurangan para pengajar dan ustadz yang mengajar tak pernah surut untuk menyebarkan ilmu. Jumlah tenaga pengajar di sekolah tersebut hanya enam orang. Minimnya tenaga pengajar itu menjadikan satu guru harus mengajar dua kelas dalam waktu yang bersamaan. Ketulusan dan keikhlasan para pengajar ini memang tiada tara, walaupun tak dapat gaji yang sepadan, mereka tak patah arang.

Prosesi belajar mengajar di SD Al Ma'arif

Untuk memenuhi sebagian nafkah keluarga, Pak Usman dan Pak Kaida, guru di sekolah tersebut juga bekerja sebagai kuli bangunan.

Melihat kondisi demikian NU CARE-LAZISNU berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana. Penggalangan dana ini untuk rencana pembangunan beberapa ruangan, di antaranya, 6 ruangan untuk kelas, 1 ruang guru,1 perpustakaan, 1 gudang, dan toilet.

Siswa/i SD Al Ma'arif Papua bersama para guru

Sesungguhnya sedekah itu benar-benar akan dapat memadamkan panasnya alam kubur bagi penghuninya, dan orang mukmin akan bernaung di bawah bayang-bayang sedekahnya.

 (HR. At-Thabrani)

chat dengan kami via whatsapp