Zakat Emas dan Perak

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Kamis, 4 April 2019 / ٢٨ رجب ١٤٤٠
Ilustrasi oleh Fuad Hasim

Emas dan perak merupakan logam mulia yang memiliki dua fungsi, selain merupakan merupakan barang tambang yang sering dijadikan perhiasan, emas dan perak juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu.

Syariat Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang potensial atau berkembang. Oleh karena itu, leburan logam mulia, seperti bejana, souvenir, ukiran atau yang lainnya termasuk dalam kategori emas dan wajib zakat.

Mata uang yang terdiri dari dinar dan dirham merupakan harta zakawi sehingga wajib dikeluarkan zakatnya. Adapun untuk mata uang zaman sekarang, ada dua wajah pendapat:

  1. Memasukkan uang sebagai komoditi yang disamakan dengan emas dan perak sehingga zakatnya terdiri atas zakat emas atau perak.
  2. Memasukkan uang sebagai komoditas tijariyah (komoditas pasar) sehingga zakatnya terdiri atas zakat tijarah.

Meskipun memiliki dua wajah pendapat, namun semuanya bersepakat bahwa segala macam bentuk simpanan uang, yang terdiri atas tabungan, deposito, cek atau surat berharga lainnya termasuk dalam barang wajib zakat.

Demikian pula pada harta kekayaan lainnya seperti rumah, vila, tanah, dan kendaraan yang dibeli serta dibangun untuk niat dijual serta tujuan investasi, maka barang-barang tersebut juga termasuk yang wajib dikenai zakat disebabkan unsur tijary-nya. Contoh dari harta kekayaan investasi ini adalah perusahaan perumahan, infrastruktur, showroom mobil, showroom sepeda motor, dan lain-lain.

Pada emas dan perak atau lainnya, jika dipakai dalam bentuk perhiasan yang tidak disimpan (huliyyun mubah), maka barang tersebut tidak dikenai wajib zakat.

Nisab Zakat Emas dan Perak

Nisab adalah ukuran minimal kepemilikan suatu harta. Setiap macam barang zakawi memiliki kadar dan ukuran tersendiri yang telah ditentukan oleh syara’. Adapun untuk beberapa jenis barang yang belum terdapat dalam nash sharih, maka diqiyaskan dengan beberapa jenis barang tertentu yang memiliki karakteristik sama.

Berikut ini disajikan sejumlah jenis dan nisab zakat emas dan perak sebagaimana telah diadopsi oleh Instruksi Menteri Agama RI No. 5 Tahun 1991.

Tabel ketentuan wajib zakat emas dan perak oleh NU Care-LAZISNU.

Nisab emas dan perak adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 595 gram perak). Artinya, apabila seseorang telah memiliki emas atau perak sebesar 20 dinar atau 200 dirham dan sudah memilikinya selama setahun, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5%. 

Demikian juga jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam emas dan perak, seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun bentuk lainnya. Nisab dan kadat zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak. Artinya, jika seseorang memiliki bermacam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nisab (85 gram emas), ia telah tekena kewajiban zakat sebesar 2,5%.

Contoh Perhitungan Zakat Emas dan Perak:

Seseorang memiliki harta kekayaan setelah satu tahun sebagai berikut:

  1. Tabungan, deposito, obligasi Rp 100.000.000,-
  2. Uang tunai (di luar kebutuhan pokok) Rp 5.000.000,-
  3. Perhiasan emas (berbagai bentuk) 150 gram
  4. Utang jatuh tempo Rp 5.000.000,-

Perhiasan emas yang digunakan sehari-hari atau sewaktu-waktu tidak wajib dizakati, kecuali melebihi jumlah maksimal perhiasan yang layak zakat. Jika seseorang layak memakai perhiasan maksimal 50 gram, maka yang wajib dizakati hanyalah perhiasan yang melampaui 50 gram, yaitu 100 gram.

Dengan demikian, jatuh tempo harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

  1. Tabungan, deposito, obligasi                                      = Rp 100.000.000,-
  2. Uang tunai                                                                          = Rp 5.000.000,-
  3. Emas (150 – 50 = 100 gram) @Rp 350.000 x 100 gram = Rp 35.000.000,-
    Jumlah Rp 140.000.000,-
  4. Utang jatuh tempo                                                      = Rp (5.000.000)
    Saldo                                                                             Rp 135.000.000,-

Besar zakat yang harus dikeluarkan: 2,5 % x Rp 135.000.000,- = Rp 3.375.000

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al Baqarah:271)

chat dengan kami via whatsapp