Zakat dalam Pusaran Dinamika Sosial Keumatan: Mewujudkan Good Zakat Governance

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Rabu, 6 Desember 2017 / ١٧ ربيع الأول ١٤٣٩
Buku Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan, karya M. Subki Risya

Oleh: Prof. Dr. KH. Fathurrahman Rauf
(Ketua NU Care - LAZISNU Pusat Periode Pertama)

Perbincangan mengenai konsep filantropi Islam sebagai alternatif solusi peningkatan kesejahteraan umat kian mengemuka dalam aras wacana publik di negeri ini. Menguatnya kembali etimasi banyak kalangan terhadap implementasi filantropi Islam, baik dalam konteks zakat, infak, sedekah, dan bahkan wakaf (ziswaf), memiliki keterkaitan erat dengan kondisi bangsa yang belum sepenuhnya bangkit dari keterpurukan sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kondisi ini berakibat kesenjangan penguasaan perekonomian antarwarga negaramenjadi kian lebar. Nah, pada saat itulah ziswaf kembali dilirik dan diharapkan menjadi alternatif solusi terhadap problem kemiskinan umat.

Dalam pandangan para yuris muslim, ziswaf--terutama zakat--merupakan ajaran yang melandasi tumbuh dan berkembangnya sebuah kekuatan sosial ekonomi umat Islam. Seperti pada empat rukun Islam yang lain, ajaran zakat menyimpan beberapa dimensi yang kompleks meliputi nilai privat-publik, vertikal-horizontal, serta ukhrawi-duniawi. Nilai-nilai tersebut merupakan landasan pengembangan kehidupan kemasyarakatan yang bersifat komprehensif. Bila semua dimensi yang terkandung dalam ajaran zakat ini dapat diaktualisasikan, maka zakat sejatinya menjadi sumber kekuatan yang sangat luar biasa bagi pembangunan umat menuju kebangkitan kembali peradaban Islam yang beberapa abad mengalami masa suram.

Menunjuk arti penting zakat dalam konteks pembangunan ekonomi umat, dalam al-Qur'an ditemukan sedikitnya 72 kali terminologi "zakat" disebut-sebut, yang kemudian dirangkai dengan kata "shalat". Kecenderungan al-Qur'an dalam merangkai kedua terminologi keagamaan tersebut menunjukkan perimbangan makna di antara keduanya. Dalam arti kata lain, implementasi ajaran zakat memiliki keutamaan yang 'sebanding' dengan ajaran shalat dalam Islam. (QS. Al-Baqarah [2]: 43).

Dalam magnum opus-nya, Tasir al-Misbah, Muhammad Quraish Shihab (2000) menegaskan bahwa antara shalat dan zakat memiliki keterikatan yang saing mendukung satu sama lain. Ritual Shalat dianggap sebagai keniscayaan hamba dengan Sang Pencipta. Sementara zakat menjadi suatu kemestian individu sebagai bagian dari bangunan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, keduanya merefleksikan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.

Keutamaan ajaran zakat jika diperbandingkan dengan ajaran-ajaran lain menunjukkan bahwa hanya zakatlah yang dianggap sarat dengan nilai-nilai sosial. Oleh sebab itu zakat dalam mata rantai peningkatan kesejahteraan umat Islam tak mungkin diacuhkan. Dalam ajaran fikih, misalnya, masalah zakat ditempatkan pada kitab kedua dari rub‘ al-ibadah. Dengan demikian, ibadah zakat menjadi diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang (ma‘lum min al-din bi al-dharurah).

Namun dalam perjalanan sejarah masyarakat Islam, ajaran zakat, dengan pelbagai dimensi yang dimiliki, sepertinya luput dari perhatian umat Islam. Zakat tinggal menjadi kewajiban pribadi umat Islam dan dilakukan dalam upaya melaksanakan kewajiban diri terhadap Allah SWT semata-mata. Zakat sekadar menjadi, apa yang disebut sebagai, ibadah mahdlah, privacy, dan bernuansa orang-perorang. Dalam arti kata lain, telah terjadi suatu pergeseran makna, dari suatu ajaran yang luas dan mendalam, yang dikembangkan Rasul dan Sahabat, pada akhirnya zakat menjadi ajaran yang sempit bersamaan dengan mundurnya umat Islam dan menurunnya kemauan berfikir.

Untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas yang tinggi antar manusia, Islam sebenarnya telah memberikan petunjuk pembelanjaan untuk harta yang berlebihan. Ajaran ini menegaskan bahwa harta kelebihan harus digunakan untuk mencari kebajikan, kebenaran, kesejahteraan masyarakat dan dalam bentuk bantuan kepada orang yang sudah tak mampu menjamin akan kebutuhannya sendiri.

Cara terbaik bagi orang yang berlebihan harta adalah mengulurkan tangannya kepada orang-orang miskin. Kebajikan ini diakui sebagai suatu ajaran moral tertinggi dalam Islam. Dan di lain pihak, masyarakat Islam senantiasa memuliakan orang-orang yang memperoleh suatu harta seraya membelanjakannya dengan cara yang benar daripada kepada orang-orang yang selalu menimbun hartanya atau terus-menerus menginvestasikannya untuk memperoleh keuntungan lebih banyak.


Tulisan di atas merupakan petikan “Kata Pengantar” buku ZAKAT UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN karya Drs. H.M. Subki Risya, MH. Ditulis ulang oleh Wahyu Noerhadi.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”

(QS. Al Baqarah : 270)

chat dengan kami via whatsapp