Sedekah Ekstrem Menurut Quraish Shihab

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Selasa, 18 Desember 2018 / ٩ ربيع الآخر ١٤٤٠
Ilustrasi: Albaulqoni

Bagaimanakah jika kita menunaikan sedekah dengan jumlah yang banyak, namun terbersit perasaan terpaksa atau tidak ikhlas. Apakah kita akan tetap mendapat pahala atas sedekah kita? Karena, sebelumnya muncul anggapan, jika sedekah menunggu ikhlas maka sedekah yang ditunaikan tidak akan pernah banyak. Karena belum menjadi kebiasaan. Karena jika terbiasa maka akan bisa; bisa ikhlas dengan sedekah yang banyak. Tidak lagi merasa terpaksa.

Mufasir sekaligus cendikiawan muslim Indonesia, Muhammad Quraish Shihab menguraikan pandangannya terkait hal tersebut. Quraish Shihab menjelaskan, keterpaksaan terbagi menjadi dua, yaitu dipaksa orang dan dipaksa oleh diri sendiri.

“Jika kita memaksaan diri untuk kebaikan maka itu baik. Akhlak itu tidak akan tercipta tanpa kebiasaan dan awal dari membiasakan adalah dengan memaksa. Sementara jika bersedekah karena ancaman maka namanya tidak tulus,” jelas Quraish Shihab, pada program acara Shihab & Shihab di Narasi TV, yang dipandu oleh jurnalis sekaligus putrinya, Najwa Shihab.

Pada gelar wicara (talkshow) yang bertajuk Berbisnis dengan Allah, muncul pertanyaan selanjutnya yang menyoal sedekah ekstrem. Sedekah ekstrem yang dimaksud adalah ketika seseorang menyedekahkan sebagian bahkan seluruh harta di saat orang itu sedang kesulitan finansial. Seseorang itu berharap agar Allah Swt segera mengembalikan hartanya berlipat kali sehingga dapat menyelesaikan kesulitan finansialnya. Apakah sedekah dengan pola pikir seperti itu dibenarkan?

Quraish Shihab menganjurkan agar kita senantiasa bersikap moderat. Dirinya juga menegaskan agar kita jangan pernah mengatakan kepada orang lain untuk mengeluarkan semua (harta) yang ada di saku, dan mengiming-iming bahwa nanti akan datang dari yang lain.

“Al Quran mengatakan, jangan biarkan lenganmu membelenggu lehermu (kikir) dan jangan juga mengeluarkannya sedemikian rupa. Nabi Muhammad Saw juga bersabda ketika akan mengambil zakat dari seseorang, maka jangan ambil hartanya yang paling baik atau yang paling disenangi. Ambillah yang pertengahan dan bagi yang bersangkutan hendaknya tidak mengeluarkan (harta) yang paling tidak disukai,” papar Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998).

Profesor lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir itu mengungkapkan, tidak setuju dengan orang yang mengiming-imingi sedekah ekstrem, karena hal tersebut bukanlah tuntunan agama yang dirinya pahami.

“Maka keluarkanlah sedekah tetapi ingat, masih ada keluargamu dan masih ada hari esok,” tutur Rektor UIN Syarif Hidayatullah masa jabatan 1992-1998. [Red: Wahyu Noerhadi]

Berinfaklah dan jangan menghitung-hitung, niscaya Allah akan menghitung rizkiNya  padamu. Dan janganlah kamu menahan-nahan, niscaya Allah akan menahan-nahan rizkiNya padamu.

(HR. Bukhari)

chat dengan kami via whatsapp