Membumikan Praktik Zakat, Infak dan Sedekah

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Rabu, 6 Desember 2017 / ١٧ ربيع الأول ١٤٣٩
Buku Membumikan Sedekah

Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan yaitu Allah, mengajarkan bahwa Allah menurunkan Firmannya kepada manusia melalui para Nabi dan Rasulnya dan meyakini bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah. Dalam Islam, kita diajarkan dan ditekankan untuk beribadah yaitu ibadah yang bersifat Habl min Allah wa Habl min an nas. Ibadah yang pertama yaitu Shalat. Shalat adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh umat Muslim yang diawali dengan Takbiratul Ihram dan diakhiri dengan salam dan dikerjakan di 5 waktu.

Ibadah yang kedua adalah Zakat. Zakat yaitu sebagian harta yang dikeluarkan untuk kaum yang berhak menerima (fakir miskin). Zakat berarti membersihkan dan menyucikan diri dari sifat iri dan sombong. Dari kedua ibadah ini diwajibkan sebagai umat muslim untuk melaksanakannya. Dalam praktiknya, pelaksanaan zakat nampaknya masih jauh ketinggalan dibandingkan dengan shalat. Shalat ternyata jauh diutamakan dibanding zakat. Mengapa demikian?

Abdullah bin Masud sahabat yang terkenal penguasaannya atas Al-Quran, diriwayatkan pernah berkata, “Kalian diperintahkan mendirikan shalat dan membayar zakat, siapa yang tidak berzakat maka shalatnya tidak berarti baginya.” Artinya shalat seseorang tidak akan diterima Allah selama ia belum  membayar zakatnya. Dengan demikian, shalat dan zakat adalah satu paket yang harus sama-sama dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi segala persyaratannya.

Pertama, shalat pada umumnya sudah dikenalkan sejak usia dini baik di tengah keluarga maupun di sekolah. Sedangkan zakat jarang diajarkan termasuk di sekolah sehingga walaupun sudah terkena kewajiban zakat, banyak yang belum tahu atau bagaimana cara melaksanakannya.

Kedua, kesadaran umat Islam untuk shalat cenderung lebih tinggi sebagaimana adzan dikumandangkan sebagai panggilan umat Islam untuk melaksanakan ibadah shalat. Sedangkan zakat tingkat kesadaran lebih rendah karena masih sedikitnya dana zakat yang dikumpulkan jika dibandingkan dengan potensi zakat di tengah masyarakat.

Disayangkan memang, pembayaran zakat umat Islam hanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan saja. Akan tetapi para kaum yang berhak menerima zakat itu seharusnya sepanjang tahun dan kebiasaan ini akhirnya menjadikan zakat sebagai ibadah musiman, yaitu pada bulan Ramadhan.

Dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk membayar zakat maka diperlukan langkah-langkah yang harus diperhatikan.

Pertama, jika shalat sudah diperkenalkan sejak usia dini maka zakat pun juga harus diajarkan sejak dini. Karena anak perlu dilatih dan diperkenalkan untuk menyantuni fakir-miskin dengan menyisihkan uang saku atau merelakan sebagian dari apa yang mereka miliki.

Anak juga diajak ketika orang tuanya membayar zakat ke sebuah lembaga amil zakat dan berbagai simulasi juga bisa dilakukan misalnya sebagai mustahik atau muzaki.

Dan dikenalkan juga buku atau poster yang secara ringkas mengenai zakat kiranya juga perlu agar mudah mengerti dengan berbagai animasi. Dengan demikian ketika anak sudah besar dan menjadi wajib zakat, ia tidak akan canggung dan mampu melaksanakan kewajiban zakat secara benar.

Di Desa Nanggerang, praktik itu berjalan. Kini telah bergerak di seluruh Kota Sukabumi, gerakan belajar zakat sebelum nishab. Membiasakan menyisihkan harta sejak masih tak berpunya sehingga dewasa dan kaya tak sungkan lagi berzakat dan berbagi harta.

Kedua, pengumpulan zakat juga seharusnya dilakukan secra berjamaah bukan hanya shalat saja karena semua dana zakat harus dikelola oleh lembaga zakat disebut Badan Amil Zakat (BAZ) maupun oleh masyarakat disebut Lembaga Amil Zakat (LAZ) agar yang membutuhkan mendapat bagian.

Di Sukabumi, Forum ZIS sebagai wadah kultural dan NU CARE-LAZISNU sebagai struktur resminya, menjadi wadah bagi pengumpulan zakat berjamaah ini.

Banyak keuntungan dari zakat berjamaah antara lain: (1) meningkatkan kuantitas dana zakat sehingga dapat dipergunakan untuk proyek-proyek sosial-ekonomi yang membutuhkan biaya besar, seperti mendirikan unit usaha/perusahaan, rumah sakit, dan lembaga pendidikan yang diprioritaskan untuk fakir miskin; (2) menjaga air muka para mustahik karena mereka tidak perlu berhadapan langsung dengan para muzaki, dan; (3) meningkatkan syi’ar Islam.

Ketiga, pentingnya peningkatan frekuensi zakat sehingga tidak terkonsentrasi hanya pada bulan Ramadhan saja. Sebab masa perhitungan zakat tidak selamanya beriringan dengan datangnya bulan suci tersebut. Bagi petani, zakat haru dibayarkan segera setelah masa panen, bisa tiap 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun.

Bagi pengusaha, zakat harus segera dikeluarkan ketika tutup tahun buku. Bagi pegawai atau karyawan, zakat bahkan sebenarnya bisa dicicil setiap bulan mengingat jumlahnya yang telah pasti.

Disamping itu, juga memberikan rezeki bagi para kaum fakir miskin sepanjang tahun, di lain itu harus diingatkan bahwa penyaluran zakat harus tetap dijalani untuk mengentaskan kemiskinan dan bukan untuk menciptakan kemiskinan itu. Dengan demikian pengelolaan zakat harus lebih diutamakan.

Dengan mengeluarkan zakat, maka harta menjadi penuh keberkahan dan akan terus tumbuh berkembang. Jika zakat tidak dikeluarkan maka harta itu pun akan musnah. Demikian landasan berfikir para penggerak Forum ZIS di Sukabumi.

 

Disarikan dari buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi, halaman 44-53.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Maka sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang kamu nafkahkan.”

(QS. Ali Imran: 92)

chat dengan kami via whatsapp