NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (3)

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Selasa, 5 Maret 2019 / ٢٧ جمادى الآخرة ١٤٤٠
Masjid permanen yang dibangun Tim NU Peduli dari Bali di daerah terdampak bencana di Lombok Timur. Foto: Facebook Dwi Winarno

Oleh: Dwi Winarno

“Kami di Bali telah mengirimkan bantuan ke (korban bencana) Lombok dan Palu 1,4 milyar,” ujar seorang utusan dalam Sidang Komisi Program yang mewakili PWNU Bali di Konbes dan Munas Alim Ulama NU, Banjar 2019.

Saya terkaget. Mengapa? Di Bali, warga NU merupakan minoritas tapi punya kemampuan menggalang bantuan atas nama NU.

Didorong rasa penasaran, saya hampiri untuk mengatur jadwal ngopi bareng bersamanya. Audiens tadi bernama Ekky Rezal, sesosok orangtua yang sangat friendly dan bermental anak muda. Memiliki bisnis event organizer, punya pengalaman dalam pelatihan penanganan bencana dan survival di masa kuliah. Kini didapuk sebagai Koordinator Tim NU Peduli di Bali dengan julukan “Si Jenderal Koin”.

Penghimpunan Koin di Bali

Ia bercerita, pengumpulan dana yang dilakukannya melibatkan anak-anak muda dengan cara-cara kreatif, termasuk memopulerkan hashtag #NUForBali di semua kegiatan. Jika di banyak daerah menggunakan istilah kaleng koin (Kotak Infak) maka di Bali disebut sebagai Boks Koin. Boks Koin ini diputar dengan dua metode: diletakkan di berbagai kegiatan dan dibawa door to door. Dari pola ini, dalam situasi normal, dana yang terkumpul tiap bulan mencapai 25-35 juta rupiah per bulan. Adapun dalam situasi setelah terjadinya bencana, dalam kasus bencana gempa Lombok, dalam dua hari Boks Koin sanggup mengumpulkan dana hingga Rp600 juta.

Apa yang dimaksud dengan pola door to door? Pola ini membawa Boks Koin keliling rumah warga nahdliyin. Jika yang bersangkutan berkenan menyumbang rutin, maka tiap 2 minggu sekali relawan akan mendatangi rumahnya. Daftar penyumbang terregistrasi. Apa yang paling menarik? Boks Koin NU Peduli ini bukan hanya diisi oleh nahdliyin, tetapi mereka yang non-nahdliyin atau bahkan umat agama lain, misalnya umat Hindu. Mengapa yang non-nahdliyin atau non-muslim mau ikut berkontribusi? Para relawan punya kompetensi menjelaskan visi, misi, dan program kerja yang akan dan telah dilakukan sehingga orang lain mempunyai rasa ketertarikan. Laporan pengumpulan dan penggunaan dana diberikan ke warga tiap bulan.

Ada juga kisah ketika orang non-muslim yang bertanya karena tidak mengenal apa itu NU Peduli. Secara sabar, diberi contoh melalui penyebutan nama figur, yakni Gus Dur. Secara spontan ia menyahut, “Tahu, itu Tuhan kedua kami.” Ia pun menjadi penderma. Soal ungkapan yang cenderung hiperbolis lain soal, tapi berkah Gus Dur yang semasa hidupnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan berbuah semangat kerjasama di daerah di mana jamaah NU menjadi minoritas.

Dalam kasus gempa Lombok, tim NU Peduli Bali mengirim 17 relawan yang fokus operasinya di Desa Madayin, Medas, Lombok Timur. Membantu dalam pendistribusian logistik, pendirian tenda-tenda darurat, membuat tandon air, penanganan psikososial anak-anak, hingga pembangunan masjid.

Selain soal penggalangan dana untuk daerah terdampak bencana, saat ini terdapat tiga program unggulan NU Peduli di Bali, yakni beasiswa pendidikan, kesehatan, dan renovasi rumah warga. Ketiganya terus berjalan.

 

*Penulis adalah dosen Pengampu Sosiologi Bencana, Unusia, Jakarta​

“Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

(QS. At-Taubah:103)

chat dengan kami via whatsapp