NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (2)

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Sabtu, 2 Maret 2019 / ٢٤ جمادى الآخرة ١٤٤٠
Foto: NU Peduli Sulteng

Oleh: Dwi Winarno*

Sengaja saya mau ikut serta dalam sarasehan bencana yang digelar NU Peduli pada awal bulan Februari 2019 di Lampung. Apa pasal? Mendengar dan menuliskan.

Satu kali saya terkejut mendengar kiprah NU Peduli melalui Pak Syahrizal Syarif, Ketua PBNU, dalam obrolan ringan di sela-sela rapat Komisi Program dan Rekomendasi untuk Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar. Banyak sekali aktivitas sosial yang diceritakan. Bagi saya, penganut sinisme tak beraturan, mengapa yang diceritakan itu hanya diketahui segelintir orang. Padahal, kita saat ini berada di era late modernity, di mana informasi mestinya mengalir deras.

Dalam sarasehan, masalah publikasi ini sedikit disinggung. Ternyata yang membuat “malas” melakukan publikasi berlebihan adalah kuatir jika publikasi tersebut menjadi “riya”. Inilah problem mendasarnya. Lalu saya bergumam, “Dasar NU!” Padahal aktivitas sosialnya luar biasa. Berlangsung hingga berbulan-bulan setelah terjadinya bencana.

Agar yang kuatir soal publikasi ini tidak menjadi riya, maka saya mengorbankan diri untuk menuliskannya. Saya tidak terlibat dan menjadikan sesuatu yang dikerjakan orang lain agar saya mendapat pujian. Cukup sampai di situ. Saya berharap apa yang saya tulis mampu menggugah kesadaran kolektif jamaah NU untuk mau terus berkontribusi. Kesadaran yang mampu menggerakkan. Kalau tidak--yah mudah-mudahan tidak ada kata “tidak”.

Bencana besar di NTB dan Sulawesi Tengah setidaknya telah membangkitkan semangat filantropi di kalangan NU. Sekurang-kurangnya sekitar Rp18 milyar berhasil dikumpulkan dan disalurkan. Adapun untuk Lampung dan Banten sekitar Rp10 milyar. Lalu saya membayangkan, bagaimana jika semangat filantropi ini terus berlangsung, misalnya untuk membangun rumah sakit, klinik, madrasah di daerah perbatasan atau tertinggal, masjid, pesantren, universitas kelas dunia, beasiswa, dan bantuan finansial untuk pengusaha mikro. Betapa dahsyatnya NU! Singkirkan pendapat orang lain bahwa, "NU itu identik dengan kemiskinan dan biarkan terus miskin.” Kelas menengah di NU kini jumlahnya sudah cukup melimpah.

Guna membangun kesadaran, tulisan di bawah ini sengaja saya susun berdasar data yang saya dapat. Anda yang telah menyumbang atau terlibat penggalangan dana bisa mengetahui untuk apa harta yang Anda sumbangkan.

NU Peduli Lombok

Di fase tanggap darurat gempa Lombok, NU Peduli telah mendistribusikan makanan siap saji dan mendirikan dapur umum yang menyasar 37.000 jiwa. Distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal, tenda, family kit, hygiene kit untuk 52.390 jiwa. Distribusi kebutuhan khusus anak dan perempuan untuk 33.762 jiwa. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat dan pelayanan kesehatan untuk 4.525 jiwa. Kemudian layanan psikososial bagi 8.000 orang dewasa dan 2.032 anak-anak.

Kemudian di fase transisi, hinggal Februari 2019, NU Peduli kembali melakukan berbagai aktivitas sosial. Melakukan distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal dan tenda bagi 41.092 jiwa. Mendirikan masjid/mushola darurat sebanyak 28 unit dan masjid semi permanen 1 unit. Mendirikan madrasah darurat sebanyak 41 unit. Mendirikan hunian sementara sebanyak 603 unit. Mendirikan fasilitas air bersih dan MCK di 18 titik. Distribusi family kit bagi 5.810 keluarga. Distribusi hygiene kit bagi 541 keluarga. Distribusi school kit bagi 1093 anak. Distribusi kebutuhan khusus anak dan perempuan 587 jiwa. Pelayanan kesehatan bagi 7.234 jiwa. Pelayanan psikososial bagi 7.234 orang dewasa dan 3.582 anak-anak.

NU Peduli Sulteng

Sementara ketika terjadi gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Sulteng, NU Peduli kembali berkiprah. Pada fase tanggap darurat, NU Peduli telah mendistribusikan makanan siap saji dan mendirikan dapur umum yang mencakup 37.000 jiwa. Mendistribusikan sembako, nutrisi khusus anak, terpal, tenda, family kit dan hygiene kit bagi 52.390 jiwa. Distribusi kebutuhan perempuan dan anak bagi 33.762 jiwa. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat bagi 4.525 jiwa. Pelayanan psiko sosial bagi 8.000 orang dewasa dan 3.032 anak-anak

Adapun pada fase transisi, distribusi sembako, nutrisi khusus anak, terpal, dan tenda untuk 41.092 jiwa. Memperbaiki 7 unit masjid/musholla darurat, mendirikan 4 unit masjid semi permanen, dan membangun 1 masjid permanen. Memperbaiki 15 unit madrasah. Membangun fasilitas MCK dan fasilitas air bersih di 12 titik. Membangun 139 unit hunian sementara. Mendistribusikan family kit dan hygiene kit bagi 4.000 keluarga. School kit bagi 2.000 anak. Pelayanan kesehatan dan distribusi obat untuk 3.113 jiwa. Kemudian layanan psikososial bagi 6.315 orang dewasa dan 3.550 anak-anak.

Selain dua bencana besar di atas, NU Peduli juga terlibat dalam penanganan korban bencana tsunami Selat Sunda di Lampung dan Banten yang terjadi akhir tahun lalu.

Masih di tahun yang sama, terlibat dalam berbagai penanganan bencana banjir ataupun longsor di Ponorogo, Pacitan, Brebes, Jakarta, Banjarnegara, Cirebon, dan Banyuwangi. Lalu gizi buruk untuk suku Asmat, di Papua. Juga berpartisipasi aktif mengirimkan bantuan dan tim medis ke Myanmar dan Bangladesh bagi pengungsi Rohingya.

 

*Penulis adalah dosen Pengampu Sosiologi Bencana, Unusia, Jakarta

"Kalian tidak akan mendapat kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai."

(QS. Ali Imran:92)

chat dengan kami via whatsapp