Kembali Takwa usai Sebulan Puasa

NUcare.id | ditulis oleh : Admin | Kamis, 14 Juni 2018 / ٣٠ رمضان ١٤٣٩
Ilustrasi: NU Care-LAZISNU

Oleh: Haafidh Nur SY*

Bulan Ramadhan telah kita lewati. Kita tentu sedih, atau justru senang karena kita bisa kembali sesuka hati makan di siang hari, mengumbar hawa nafsu dan ego diri. Semoga tidak. Bulan Ramadhan, bulan dengan beragam keistimewaan-keistimewaan. Ramadhan bulan suci, kita sering menyebutnya. Dengan sebutan 'Bulan Suci', secara tidak langsung atau tanpa kita sadari, kita menganggap bulan-bulan lain, rajab, syawal, sya’ban dan bulan lain adalah bulan yang kurang suci atau tak sesuci bulan ramadhan. Ini adalah fenomena yang perlu diluruskan mengingat bukan hanya bulan ramadhan yang dapat kita isi dengan memperbanyak ibadah, amal shalih dan berbuat kebaikan, melainkan kita dapat melakukan Ibadah-ibadah syar'i dibulan lain selain ramadhan. Termasuk usai Ramadhan.

"Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah-Ku" (QS.51:56)

Menyembah dan mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam bentuk shalat, zakat, puasa, tidak hanya dalam bulan Ramadhan saja. Menyembah dan mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah hidup dan kehidupan kita secara utuh. Hidup dan kehidupan kita, para hamba Allah yang mukmin, adalah penyembahan dan pengabdian belaka kepada-Nya.

Kita menyembah dan mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala di dalam sembahyang kita, sholat kita, zakat kita, puasa kita, haji kita, dalam pergaulan keluarga kita, pergaulan kemasyarakatan dengan saudara, tetangga, sahabat, sesama, pendek kata dalam segala gerak langkah kehidupan kita. Bahkan seperti senantiasa kita ikrarkan, "Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil 'alamin. 

Memang, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkenan dan menyediakan bulan Ramadhan sebagai sarana taqarrub atau mendekatkan diri kepada-Nya. Namun sayang, sering kali kita terjebak dalam makna bulan suci, sehingga kita mengabaikan bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan. Maka tak mengherankan jika shalat, misalnya, yang seharusnya dapat "tanha 'anil fakhsya-i wal munkar" (dapat membentengi orang yang melakukannya dari perbuatan keji dan mungkar), justru tak tampak pengaruh positifnya dalam kehidupan mushalli yang bersangkutan.

Output dari bulan Ramadhan adalah supaya kita menjadi orang yang bertakwa. Sifat takwa inilah yang nanti akan akan diraih dari amalan puasa.

Dari bulan Ramadhan kita belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik dengan melaksanakan perintah-Nya dan berupaya menjauhi segala larangan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS.2:183).

Menyitir dari pendapat Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah, beliau menyebutkan,

“Allah Ta’ala menyebutkan dalam ayat di atas mengenai hikmah disyari’atkan puasa yaitu agar kita bertakwa. Karena dalam puasa, kita mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya."

Yang meliputi takwa dalam puasa adalah seorang muslim meninggalkan apa yang Allah haramkan saat itu yaitu makan, minum, hubungan intim sesama pasangan dan semacamnya. Padahal jiwa begitu terdorong untuk menikmatinya. Namun semua itu ditinggalkan karena ingin mendekatkan diri pada Allah dan mengharap pahala dari-Nya. Inilah yang disebut takwa.

Begitu pula orang yang berpuasa melatih dirinya untuk semakin dekat pada Allah. Ia mengekang hawa nafsunya padahal ia bisa saja menikmati berbagai macam kenikmatan. Ia tinggalkan itu semua karena ia tahu bahwa Allah selalu mengawasinya.

Begitu pula puasa semakin mengekang jalannya setan dalam saluran darah. Karena setan itu merasuki manusia pada saluran darahnya. Ketika puasa, saluran setan tersebut menyempit. Maksiatnya pun akhirnya berkurang.

Orang yang berpuasa pun semakin giat melakukan ketaatan, itulah umumnya yang terjadi. Ketaatan itu termasuk takwa.

Begitu pula ketika puasa, orang yang kaya akan merasakan lapar sebagaimana yang dirasakan fakir miskin. Ini pun bagian dari takwa. Demikian perkataan Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman, hal. 86.

Semoga amalan kita dibulan Ramadhan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga keluar dari bulan Ramadhan kita menjadi manusia yang bertakwa. Kembali fitri. Amin.

*Sekretaris NU Care-LAZISNU Kecamatan Ngluyu, Nganjuk.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Maka sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang kamu nafkahkan.”

(QS. Ali Imran: 92)

chat dengan kami via whatsapp