Indonesia Paling Dermawan Se-Dunia, Bagaimana NU Menyikapinya?

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Rabu, 28 November 2018 / ١٩ ربيع الأول ١٤٤٠
credit: pixabay

oleh Didin A Sholahudin*

Indonesia Negara Paling Dermawan Sedunia. Itulah headline sejumlah media beberapa hari ini. Laporan tahunan yang dipublikasikan Charities Aid Foundation (CAF) tentang World Giving Index per Oktober 2018 menempatkan Indonesia di posisi teratas  sebagai negara paling dermawan dari 144 negara yang disurvei; mengungguli negara negara maju seperti Australia di urutan kedua, disusul Selandia Baru dan Amerika Serikat.

Pencapaian ini layak diapresiasi, mengingat Indonesia bukanlah negara berpendapatan tinggi; namun mampu menjadi negara paling dermawan sedunia. Pertanyaannya, apa kita terkejut dengan prestasi paradoks ini? Jawabnya, tidak. Jika merunut ke belakang, tren peningkatan kedermawanan masyarakat Indonesia sudah terekam sejak lama, pasca tsunami Aceh tahun 2004. 

Coba simak catatan Baznas. Jumlah penghimpunan zakat infak dan sedekah(ZIS) melonjak tajam sebesar 96,90 persen usai tsunami Aceh, di mana tahun 2004 sebesar Rp150,09 miliar, naik Rp295,52 miliar di tahun 2005. Terus meningkat sampai tahun 2016 sebesar Rp5,017 triliun, hingga laporan terakhir di tahun 2017 sebesar Rp6 triliunan (Outlook Zakat Indonesia, Pusat Kajian Strategis Baznas, 2018).

Jika dilihat lebih cermat, kenaikan rata-rata pertumbuhan ZIS sejak tahun 2004-2017 sebesar 39,28 persen. Angka ini jauh lebih besar ketimbang rata-rata pertumbuhan PDB yang hanya mencapai 5,42 persen. Maka, bukan sesuatu yang istimewa perihal penyematan Indonesia sebagai negara paling dermawan sedunia.

Banyak pihak menilai bahwa dua faktor pendorong yang menyuburkan empati sosial masyarakat untuk gemar berderma adalah tumbuhnya religiusitas di tengah masyarakat dan bencana alam yang kerap kali terjadi di tanah air. 

Namun, faktor lain yang tak boleh diabaikan adalah keberadaan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Fungsi LAZ dalam mengedukasi, menumbuhkan semangat dan motivasi bersedekah, melakukan fundraising (penggalangan dana), menyalurkan dalam bentuk program strategis yang dibutuhkan masyarakat; menjadikan tradisi berderma terus tumbuh mekar dan perolehan dana ZIS meningkat tajam tiap tahunnya.

Mencermati fenomena tersebut sudah seharusnya dimaknai oleh jam'iyah Nahdlatul Ulama sebagai momentum untuk menata ulang keberadaan LAZ-nya; jika tak ingin tertinggal dengan lembaga dan ormas lainnya; yang sudah sigap dalam mereformasi gerakan kedermawanannya. NU Care-LAZISNU, sebagai LAZ paling sah milik jam'iyah NU harus segera melakukan evaluasi menyeluruh dan menata ulang lembaganya agar menjadi pilihan satu-satunya jamaah NU, bahkan masyarakat Indonesia.

NU Care-LAZISNU tidak saja harus berkompetisi dengan 15 LAZ Nasional lainnya untuk merebut hati masyarakat, tapi juga dengan Ormas, Lembaga, LAZ tingkat provinsi dan kabupaten, media serta paguyuban sosial dadakan yang muncul saat bencana terjadi. Potensi ZIS Nasional sebesar Rp217 triliun, seharusnya menjadi motivasi NU untuk meracik strategi terbaik agar masyarakat melirik NU Care-LAZISNU sebagai LAZ paling terpercaya.

Memang harus diakui jika rajutan kerja sama antarwilayah dan cabang telah mengukuhkan NU Care-LAZISNU mampu menapak dan bersaing dengan 15 LAZ Nasional lainnya. Simak saja laporan keuangannya. Di tahun 2016 akumulasi perolehan ZIS NU Care-LAZISNU dari tingkat pusat sampai desa, sebesar 52 miliar; meningkat pesat di tahun 2017, sebesar 154 milar. Tetapi ingat, angka ini masih kalah jauh dibandingkan Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa, LAZ yang tidak berbasis massa Ormas.

Pada aspek lain, NU Care-LAZISNU juga mampu mewujudkan UPZISNU di tingkat kabupaten dan kota, ribuan di tingkat kecamatan dan tingkat desa; dan ribuan JPZISNU di masjid, musala, Banom NU, Pesantren, dan sekolah-sekolah Ma’arif NU. Dan patut dicatat, donasi miliaran dari jejaring NU Care-LAZISNU bagi pemulihan bencana Lombok dan Palu, menunjukkan fakta bahwa kerja keras dan sinergi ini telah berbuah hasil yang menggembirakan. 

Namun demikian, masih ada PR serius yang harus dituntaskan oleh PBNU, PWNU hingga struktur pengurus NU tingkat ranting; jika menginginkan NU Care-LAZISNU dapat terus dipercaya menjadi satu-satunya LAZ yang dipilih masyarakat, dan menjadi pendorong meningkatnya gerakan kedermawanan di jamaah NU, NU Care-LAZISNU harus siap untuk dapat berkompetisi dengan LAZ non-Ormas yang gerakannya lebih lincah dan massif.

Penulis adalah relawan NU Care-LAZISNU, Wakil Ketua PCNU Jombang.

"Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

QS. Al-Taubah (9): 103

chat dengan kami via whatsapp