Hari Raya untuk Semua

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Jumat, 15 Juni 2018 / ١ شوال ١٤٣٩
Ilustrasi: NU Care-LAZISNU

Oleh: Muh. Ridwan Zein​*

Di suatu pagi Hari Raya Idul Fitri, Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan shalat sunnah Idul Fitri. Beliau melihat anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. Namun, tampak seorang anak berdiri dan menangis tersedu.

Melihat fenomena itu, Rasulullah SAW segera menghampiri anak tersebut dan bertanya.

"Nak, mengapa kau menangis?"

Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa yang bertanya adalah Rasulullah SAW lalu menjawab,

“Doakanlah aku wahai Tuan, ayahku telah wafat. Dalam pertempuran bersama Rasulullah. Dan ibuku menikah lagi dengan orang lain. Ia mengambil rumahku dan memakan harta warisanku, peninggalan ayah. Jadilah aku seperti yang engkau lihat ini wahai, Tuan; telanjang, kelaparan, dan bersedih. Ketika tiba Hari Raya Ied, aku melihat teman sebayaku bermain, aku jadi bertambah sedih, lalu aku menangis.”

Lalu Nabi berkata kepadanya, “Sudikah engkau apabila aku jadi bapakmu, Aisyah jadi ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu dan Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain jadi suadara laki-lakimu?”

Lalu anak itu menjawab, "Bagaimana aku tidak rela, yaa Rasulullah?”

Segera Nabi SAW mengambil anak itu dan dia dibawa ke rumah beliau SAW. Lalu, si anak diberdirikan untuk dipakaikan baju lebaran. Saat anak itu keluar rumah, bermain dengan teman sebayanya, anak anak yang lain bertanya,

"Saat seperti sekarang kamu biasanya berdiri di antara kami dan menangis, sekarang apa yang membuatmu tersenyum?”

Anak itu berkata kepada mereka,

“Semula aku lapar, sekarang kenyang. Dulu aku telanjang, kini aku berpakaian. Dulu aku tidak punya bapak kini Rasulullah jadi bapakku, Aisyah jadi ibuku, Fatimah jadi saudara perempuanku, dan Ali jadi pamanku, Hasan dan Husein jadi saudara laki-lakiku.”

Kemudian, anak-anak yang lain berkata, "Oh, seandainya bapak bapak kami wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW, maka kami juga akan diangkat menjadi anak oleh Rasulullah.” 

Sahabatku yang dikasihi oleh Allah, adakah di sini yang hendak mempraktikkan seperti apa yang dilakukan Rasulullah? Mengadopsi anak yatim dan merawatnya? Jawablah dengan hati kalian masing-masing.

Maka marilah kita merenungkan kisah ini, bahwa ada beberapa poin yang perlu kita petik.

Pertama, Idul Fitri bagi muslimin adalah ibarat hari di mana kita berbuka puasa setelah menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh. Kita dihalalkan untuk makan dan minum di siang hari, dan idul fitri adalah hari di mana kita disucikan kembali. Namun, adakah kita terlupa, bahwa Hari Raya Idul Fitri adalah untuk semua umat muslim baik yang kaya atau pun miskin. Tanpa terkecuali. Maka, marilah kita merasakan nikmat berbuka dengan mengajak tetangga kita, sanak saudara kita yang tidak seberuntung kita untuk sama-sama merayakan kemenangan secara bersama-sama.

Kedua, Idul Fitri banyak ditandai dengan berbagai macam hal yang baru, baik pakaian, makanan, dan juga status sosial. Kita memperlihatkan bahwa kita berhasil melewati bulan Ramadhan maka sudah sepantasnya kita merayakan dengan gembira dan rasa syukur. Namun, apakah kita menyadari dari rasa syukur kita dan perayaan gembira kita, tidak dapat dirasakan oleh tetangga kita yang tidak bisa merasakan sebagaimana kebahagiaan kita. Lalu apa karena hanya lapar sebulan, kita pernah membayangkan saudara kita di belahan bumi yang lain, yang tidak bisa makan dan merasakan kemerdekaan seperti di negeri kita ini?

Ketiga, Idul Fitri adalam momen memecah sekat. Sudah tidak asing lagi bagi kita dengan kebiasaan mudik. Para perantau dari kota membanjiri kampung halaman untuk merasakan Idul Fitri di kampung bersama keluarga. Ini semua terjadi karena adanya Idul Fitri. Maka, kita wajib bersyukur dengan karunia ini. Para pemuda-pemudi mengadu nasib untuk mencari pekerjaan, melanjutkan sekolah dan mengubah keadaan ekonomi menjadi lebih baik. Tentu hal ini sangatlah mulia, namun dengan kita terpisah jauh dengan lingkungan kita waktu kecil, maka tak lantas membuat kita menjadi orang lain di kampung sendiri. Tak lantas tertutup dan membatasi diri dengan lingkungan sekitar. Maka dengan momen Idul Fitri inilah, para perantau dituntut untuk menyambung silaturahmi yang terputus karena sudah berpindah wilayah kehidupan dari awalnya desan kemudian merantau di kota. Kita menyambangi teman-teman kita waktu kecil, kita bersilaturahmi dengan para tetangga dan sanak saudara agar tak ada jarak di antara sesama muslim. Karena sejatinya Hari Raya Idul Fitri adalah momen atau ajang untuk menyambung silaturahmi, sebelum kembali ke rutinitas masing-masing di kota rantau.

Terakhir, Idul Fitri adalah momen introspeksi diri. Di hari yang sangat mulia ini, janganlah ada lagi dendam dan sakit hati antar sesama muslim, antar tetangga dan saudara. Buanglah sifat gengsi untuk meminta maaf, agar kita menjadi benar-benar suci secara dzohir dan batin. Sehingga, ketika sewaktu-waktu kita dipanggil oleh Allah kita telah siap dan bersih, karena hati kita telah saling memaafkan dan saling meridhoi sesama muslim.

Semoga di hari yang mulia ini kita dapat menjadi umat Rasulullah yang pemaaf dan rendah hati; mengedepankan kasih dan sayang antar sesama. Dan juga menjadikan kita sebagai muslim yang berjiwa sosial tinggi, peka terhadap keadaan saudara sesama muslim dan sesama manusia; sesama ciptaan-Nya.

Wallahu a’lam 

*Penulis adalah Staf Fundraising PP NU Care-LAZISNU, asal Pati. Telah menyelesaikan studi kesarjanaannya di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Fakultas Ushuluddin.

Kamu menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah bagimu.

(HR. Bukhari)

chat dengan kami via whatsapp