Fiqih Zakat Produktif

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Kamis, 31 Mei 2018 / ١٦ رمضان ١٤٣٩
Credit: pixabay.com

Oleh: Hafid Ismail*

Menurut ulama Syafi’iyyah, zakat produktif sah dilakukan bila zakat diserahkan dan dikelola oleh pemerintah atau amil yang sah. Pemerintah atau amil dianggap sebagai wakil dari mustahiq yang memiliki otoritas penuh mengelola zakat untuk didistribusikan secara konsumtif sesuai dengan kebutuhan mustahiq atau dijadikan produktif untuk kepentingan mustahiq itu sendiri.

Al-Halabi dan Al-Adzra’i mensyaratkan adanya kesepakatan terlebih dahulu dari mustahiq. Dengan kata lain, bila zakat diserahkan langsung oleh muzakki harus diserahkan sesuai dengan ketentuan yang ada. Hal ini dikarenakan pemberian zakat produktif meniscayakan proses ibdal (penggantian harta zakat) yang menjadi hak mustahiq.

Sedangkan bila mengikuti pendapat Hanafiyyah, pemberian zakat produktif diperbolehkan, mengingat Hanafiyyah memperbolehkan penggantian zakat dalam bentuk qimah atau nilai suatu benda. Qimah yang dimaksud boleh diubah sesuai dengan kebutuhan mustahiq. Jika diwujudkan dalam bentuk benda produktif, al Kasani menyaratkan benda-benda tersebut adalah yang diperbolehkan untuk bershadaqah.

Qimah sendiri diartikan sebagai pertukaran benda zakat yang sudah ditentukan dalam hadits Nabi Saw dengan benda lain atau dengan uang tunai yang seharga dengan benda zakat tersebut.

Sebuah hadits riwayat Bukhari menjelaskan motivasi penggantian zakat sebagai berikut:

وَقَالَ طَاوُسٌ قَالَ مُعَاذٌ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، لأَهْلِ الْيَمَنِ ائْتُونِي بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ ، أَوْ لَبِيسٍ فِي الصَّدَقَةِ مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ وَخَيْرٌ لأَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ.

Thawus berkata, Muadz bin Jabal ra berkata kepada penduduk Yaman, “Berikanlah kepadaku barang-barang yaitu baju gamis atau pakaian-pakaian lain, sebagai ganti dari zakat sya’ir dan jagung, yang lebih memudahkan bagimu, dan lebih baik bagi para sahabat Nabi SAW di Madinah."

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ كِلاَهُمَا عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ هَارُونَ بْنِ رِيَابٍ حَدَّثَنِى كِنَانَةُ بْنُ نُعَيْمٍ الْعَدَوِىُّ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلاَلِىِّ قَالَ تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَسْأَلُهُ فِيهَا فَقَالَ: "أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا". قَالَ ثُمَّ قَالَ "يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ - أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ - وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ - أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ -فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا

( رواه مسلم)

Dari Qubaidah bin Mukharif Al Hilali ia berkata, Aku menanggung beban yang berat, maka Aku menghadap Rasul SAW menanyakan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda: "Bersabarlah, hingga Aku diberi shadaqah, lalu aku akan perintahkan sebagian untukmu. Qubaidah berkata, Rasulullah melanjutkan sabdanya: Wahai Qubaidah, sesungguhnya meminta itu tidak halal kecuali tiga orang. Yakni; seorang laki-laki yang menanggung beban berat, ia halal untuk meminta hingga mampu mengurangi bebannya. Kedua, laki-laki yang tertimpa musibah yang mehabiskan hartanya, ia berhak meminta sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Ketiga, laki-laki yang ditimpa kefakiran hingga ia menanggung tiga orang berakal dari kaumnya, ia berhak untuk memintanya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Selain ketiganya, adalah keharaman yang dimakan oleh pemiliknya."(HR. Muslim, hadits ke 2451)

Mengutip Imam An-Nawawi, Muhammad bin Yasin bin Abdullah menjelaskan isi hadis tentang kadar zakat yang dialokasikan kepada fakir miskin yakni zakat yang bisa mengentaskan kebutuhannya kepada status kaya, yaitu harta yang bisa mencukupi selamanya. Penegasan ini juga merupakan nash dari Imam Syafi’i yang dijadikan tendesi para pengikutnya, yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw memperbolehkan pemberian zakat kepada mustahiq sehingga mencukupi kebutuhannya.

Adapun 3 (tiga) contoh di dalam hadis hanya sebagai penjelas saja bukan sebagai syarat. Sehingga jika mustahiq profesinya adalah bekerja, ia berhak mendapatkan alat-alat atau perkakas kerjanya atau diberi zakat untuk membeli alat-alat kerjanya baik harganya mahal maupun murah, baik jumlah yang dibutuhkan banyak maupun sedikit. Standarnya alat-alat tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang dapat mencukupi kebutuhannya.

Mahal dan murahnya perkakas kerja tersebut tentu berbeda satu sama lain tergantung dengan profesi, domisili, waktu dan kondisi sosial masyarakatnya. Kalau dia seorang pedagang, pembuat roti, tukar menukar uang, maka diberikan zakat sesua dengan kebutuhannya, dan jika termasuk para perajin seperti tukang jahit, tukang kayu, hendaknya diberikan zakat yang dapat digunakan untuk membeli peralatan kerja mereka.

Dengan demikian zakat produktif bisa diberikan dalam bentuk uang tunai sebagai modal usaha maupun dalam bentuk peralatan kerja disesuaikan dengan profesi kerja mustahiq. Baru jika keadaan mustahiq tidak memungkinkan untuk bekerja atau tidak memiliki kesempatan kerja, terjadi perbedaan pendapat. Menurut Al-Ashhab, diberi zakat untuk kebutuhan seumur hidupnya menurut ukuran umum. Menurut Al-Mutawally, diberikan aset tanah yang produktif dan hasil mencukupi kebutuhannya hingga batas rata-rata usia manusia. Sedangkan Al-Ghazali berpendapat cukup diberi zakat untuk menghidupi kebutuhannya selama satu tahun, tidak boleh lebih, karena setiap tahunnya zakat selalu berbeda.

Keumuman nash Al-Qur’an yang terdapat dalam surat At-Taubah ayat 60 mengilustrasikan pengelolaan zakat yang bersifat umum dengan tidak meninggalkan tujuan hakiki pendistribusian zakat. Dalam artian, zakat bisa didayagunakan pada bidang-bidang yang produktif agar pemberdayaan delapan ashnaf dapat tercapai. Pemberdayaan yang dimaksud dapat dilakukan dengan berbagai macam cara tergantung dengan kebutuhan yang ada dan disesuaikan dengan perkembangan peradaban zaman yang berlaku di suatu wilayah zakat.

Walhasil, argumentasi zakat produktif pada dasarnya telah diajarkan sejak zaman Rasulullah Saw yang diikuti oleh oleh para pengikutnya, di mana relevansinya masih dan dapat terus berlaku hingga sekarang dan sepanjang zaman di segala bidang untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani masyarakat yang membutuhkan.

 *Wakil Ketua PP LAZISNU/Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat

Tidaklah sedekah mengurangi harta.

(HR. Muslim)

chat dengan kami via whatsapp