Bencana di Sulteng Mengukur Kekuatan Civil Society Kita

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Jumat, 19 Oktober 2018 / ٨ صفر ١٤٤٠
Ketua PBNU M Sulton Fatoni saat meninjau lokasi bencana di Sulawesi Tengah, Rabu (17/10/2018).

oleh Muhammad Sulton Fatoni*

Penumpang pesawat menuju Palu sangat ramai seakan tak pernah ada bencana. Meski bangunan bandara masih tampak rusak di beberapa bagian tak menyurutkan kualitas layanan. Beberapa hari belakangan ini para relawan bencana mewarnai isi pesawat. Mereka hilir mudik keluar masuk Sulawesi Tengah untuk memberikan bantuan.

Perumahan warga yang hancur akibat gempa.

Suasana kota Palu kembali padat oleh hilir mudik kendaraan. Aktivitas ekonomi perlahan kembali normal meski masih banyak pertokoan yang memilih tutup. Listrik kembali normal. Jaringan telekomunikasi sudah tersambung baik dan yang belum pulih adalah ketersediaan air bersih. Masyarakat masih harus berbagi air bersih dengan masyarakat lain yang daerahnya terdampak gempa dan tsunami.

Gambaran suasana Palu, Sigi, Donggala saat ini berbeda dengan suasana Jumat petang saat gempa dan tsunami. Saat itu suasana mencekam hingga hari Sabtu, Minggu dan Senin. Kondisi mulai membaik baru saat memasuki hari Selasa. Pemulihan memang tampak melambat karena yang terkena bencana adalah Palu sebagai pusat kota dan Sigi-Donggala sebagai dua kota penyanggah. Tiga kota itu dikepung tiga jenis bencana sekaligus, yaitu gempa, tsunami dan likuifaksi yang berakibat pada penghancuran, penenggelaman dan pemusnahan massal. Di daerah Balaroa misalnya, likuifaksi menyebabkan tanah amblas hingga 5 meter dan bergeser seratusan meter.

Komunikasi Tim NU Peduli dengan warga setempat.

Pada kondisi bencana seperti ini yang mampu mempercepat pemulihan adalah sinergi kekuatan negara dan civil society. Kekuatan negara untuk penegakan dan pemaksaan (Fukuyama, 2004). Sedangkan kekuatan civil society untuk pemulihan kehidupan yang mandiri dan beradab (Lawang, 2006). Pada konteks pemulihan paska bencana, negara perlu memulihkan infrastruktur untuk menjamin kelangsungan gerakan civil society yang memosisikan agama sebagai basis dan sosial sebagai gerakan.

Bencana yang berurutan terjadi di Lombok menyusul di Sulawesi Tengah sejatinya telah mengukur seberapa kuat civil society di Indonesia. Kecepatan pemulihan pun sangat bergantung seberapa kuat masyarakat memberikan respon solutif atas dampak bencana. Pada kondisi ini tidak tepat menelisik seberapa besar aktivitas negara karena kekuatan negara tidak selalu berwujud aktivitas yang besar.

Di antara respon masyarakat yang menarik dicermati dalam konteks mengukur kekuatan civil society saat bencana adalah fenomena yang terjadi pada Tim NU Peduli. Gerakan penanggulangan dampak bencana yang dibentuk Nahdlatul Ulama ini mampu mengundang masyarakat untuk terlibat membantu masyarakat yang terdampak. Gerakan Tim NU Peduli disamping mampu mengundang masyarakat di dalam negeri juga luar negeri, seperti dari Australia, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Belgia, Turki, Malaysia, dan lainnya.

Pelayanan kesehatan dari Tim NU Peduli Sulteng.

Sinergi kekuatan negara dan civil soviety dalam konteks pemulihan paska bencana adalah melakukan peran dan fungsi masing-masing mengingat keduanya mempunyai logika dan perspektif sendiri. Karena itu kekuatan civil society bergerak sesuai logikanya dan tidak perlu larut dalam peran dan fungsi yang sedang dimainkan oleh negara.

*Dosen Sosiologi UNUSIA

Tidaklah sedekah mengurangi harta.

(HR. Muslim)

chat dengan kami via whatsapp