NU Care-LAZISNU Gelar Pelatihan Digital Marketing bareng Difabel di Tangsel

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Minggu, 28 April 2019 / ٢٢ شعبان ١٤٤٠
Pemateri dan panitia menjelaskan mengenai materi konsep disabilitas.

Tangerang Selatan, NU Care

Program pemberdayaan ekonomi difabel yaitu Karyabel (Karyabel) di tahun 2019 perdana digelar oleh NU Care-LAZISNU bersama penyandang disabilitas di Tangerang Selatan.

Hal tersebut diungkapkan Manajer Program PP NU Care-LAZISNU, Anik Rifqoh, pada kegiatan yang digelar di Hotel Marylin, Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (27/4).

"Di tahun-tahun sebelumnya, kita NU Care-LAZISNU juga mendampingi sahabat-sahabat difabel, semisal komunitas Difabel Blora Mustika di Blora dan juga komunitas difabel di Bekasi. Ini (Karyabel) perdana digelar di tahun 2019 di Tangsel," ungkap Ninok, sapaan akrabnya.

Menarik, kata Ninok, para penyandang disabilitas meski secara kasat mata memiliki keterbatasan tetapi keterbatasan itu mereka ubah menjadi ketidakterbatasan. Beberapa diantara mereka ada yang bekerja sebagai tukang pijat, penjual makanan kemasan seperti tempe orek, kentang dan sebagainya. Namun, yang lebih mengejutkan anak mudanya juga mampu untuk berjualan game online yang memang sedang marak-maraknya di pasaran anak remaja.

"Asa, tekad yang kuat. Seperti sahabat-sahabat difabel di Blora, mereka membatik. Mereka memproduksi batik tulis sendiri. Dipasarkan sendiri. Ya, mereka memberdayakan ekonomi secara mandiri. Juga di Bekasi, mereka berdaya melalui seni musik dan membuka jasa jahit pakaian," paparnya.

Ninok mengatakan, sama seperti di Blora atau di Bekasi, kini NU Care-LAZISNU juga akan mendampingi para difabel di Tangsel.

"Sama, di Blora kami juga menggelar pelatihan digital marketing seperti ini dengan menghadirkan para praktisi. Kami juga menyalurkan bantuan alat produksi. Intinya, kami ingin membersamai sahabat-sahabat difabel," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Advokasi untuk Disabilitas Inklusi (AUDISI), Yustitia Arief, menyebut bahwa kegiatan tersebut adalah upaya membangun ekonomi produktif bagi para difabel.

"Ini kesempatan berharga bagi kami. Karya mereka, para difabel, akan bisa membangun ekonomi yang produktif," ucap Yusti.

Yusti berharap, apa yang bisa kita lakukan agar bisa berkelanjutan karena selama ini sudah banyak pelatihan difabel tapi tidak sustainable, tidak berkelanjutan. 

"Kalau mereka punya produknya, ya sudah tinggal kita pasarkan. Pemasaran ini jelas sempat menemui kesulitan, tetapi beruntung, akhirnya munculah ide digital marketing. Di mana artinya, kita tidak hanya memasarkan produk tapi memasarkan juga kemampuan yang dimiliki teman-teman difabel. Sekali lagi kami mengucapkan banyak terima kasih kepada LAZISNU." tambahnya

Selama pematerian Konsep Disabilitas, teman-teman difabel terlihat sangat antusias. Salah seorang peserta, Bapak Simo (70) yang merupakan penyandang disabilitas sejak usia 2 tahun, juga turut bercerita mengenai pengalaman hidupnya. Beliau menceritakan perjuangannya dalam kurun waktu 68 tahun sebagai seorang difabel, dari bertahan hidup hingga akhirnya punya anak.

"Jangan putus asa atau menjauh dari Tuhan. Ingat kata-kata dr Soeharso (yang kini namanya diabadikan jadi nama RS di Solo), jangan hitung tubuhmu yang hilang tapi hitung kemampuanmu." Ucap Bapak Simo, menyemangati yang lainnya. [Wahyu Nurhadi]
 

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al Baqarah:271)

chat dengan kami via whatsapp