Ramadhan Muslim Indonesia di Korsel

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Rabu, 6 Juni 2018 / ٢٢ رمضان ١٤٣٩
Warga muslim Indonesia gelar Takjil on the Road di Korea Selatan, Minggu (3/06) lalu.

Ansan, NU Care  

Waktu menunjukkan pukul 18.30, namun adzan maghrib belum terdengar karena di Korea Selatan telah memasuki musim panas. Artinya, matahari akan terbenam lebih lama dan adzan maghrib baru berkumandang sekitar pukul 20.00. Waktu fajar pun menjadi lebih cepat, sekitar pukul 03.15. Pukul 05.00 matahari sudah terang menyinari seluruh daratan Negeri Gingseng. Jika dikalkulasikan rentang waktu dari fajar hingga maghrib di Korea Selatan pada bulan Juni 2018 ini mencapai lebih dari 16 jam. Waktu yang cukup panjang dan menantang bagi para muslim yang sedang menjalankan puasa Ramadhan.

Ahad (3/06) lalu, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan yang dikoordinatori oleh Ust. Afandi, selaku Ketua NU Care-LAZISNU Korea Selatan, melakukan kegiatan Ta’jil on the Road (ToR). Kegiatan pembagian makanan untuk berbuka puasa itu diselenggarakan di daerah Ansan yang merupakan salah satu pusat industri di Korea Selatan. Acara yang dilangsungkan oleh Pengurus NU Care-LAZISNU itu merupakan kegiatan pertama kalinya yang dilakukan muslim di Korea. Sehingga, kegiatan itu menarik banyak perhatian orang, tidak hanya muslimin yang umumnya Warga Negara Asing (WNA) tetapi juga penduduk asli Korea. Para petugas kepolisian Kota Ansan pun turut mendukung dengan memberikan perizinan secara penuh untuk menjalankan kegiatan di tempat keramaian.

Para pengurus NU Care-LAZISNU Korea Selatan motori program Takjil on the Road.

Ustadz Madi, selaku Ketua Tanfidziah PCINU Korea Selatan, menuturkan bahwa ide untuk melakukan acara ToR ini selain dikarenakan untuk mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW yakni anjuran untuk memberikan makanan pembuka kepada orang yang berpuasa, juga sebagai bagian dakwah dari PCINU Korea kepada sesama muslim pendatang dari berbagai negara dan lebih khusus lagi dakwah kepada warga Korea asli.

Acara ToR itu menarik perhatian warga Korsel karena dinilai menunjukkan rasa simpati dan kepedulian yang tinggi yang dilakukan oleh umat Islam terhadap saudaranya. Selain itu, warga Korea juga mengapresiasi dan merasa takjub kepada panitia pelaksanaan ToR karena penyelenggaraan di jalanan dengan kondisi tetap berpuasa.

Kegiatan ToR itu berhasil membagikan lebih dari 100 paket buka puasa yang dikemas dengan praktis dan sederhana. Kegiatan dapat terealisasi berkat sinergi para pemuda dan pemudi muslim yang tergabung dalam Fatayat NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU Korea Selatan. Badan-badan Otonom (Banom) NU yang telah berdiri sejak empat tahun lalu itu merupakan kepanjangan tangan dari kegiatan-kegiatan dakwah yang di lakukan oleh PCINU Korsel. Acara ToR diharapkan juga bisa dilaksanakan di kota-kota lain terutama di kota-kota industri seperti Daegu, Gimhae dan Gumi. Sehinnga nuansa Ramadhan akan semakin terasa dan di kenal oleh masyrakat Korea.

Ramadhan di Korsel menjadi kesempatan emas bagi muslim Indonesai untuk mendakwahkan Islam dengan kedamaian. Salah satunya dengan acara buka puasa bersama. Acara berbuka puasa bersama yang dilaksanakan di masjid dan mushala oleh para pengurus PCINU dan umat Islam di Korea pada umumnya tidak hanya ditunggu oleh para WNA tetapi juga kerap menarik perhatian warga setempat. Karena melalui tradisi buka puasa bersama ini bagi muslim pendatang, menjadikan suasana Ramadhan di Korsel seperti di kampung halaman. Kebersamaan dalam beribadah hingga hidangan yang disajikan dalam berbuka puasa menjadi obat tersendiri akan rindunya suasana ber-Ramadhan di kampung halaman Indonesia. 

Sedangkan bagi warga Korea sendiri, seperti diketahui makan bersama untuk merayakan sesuatu hal adalah tradisi yang sudah mendarah daging dalam diri warga korea sehingga aktivitas muslim yang melakukan buka puasa secara bersama diniliai sebagai sebuah tradisi yang baik dan sama dengan tradisi yang sudah terbangun dalam kultur orang Korea.

Interaksi secara personal antar-muslim dengan non-muslim Korea dalam kehidupan sehari-hari sepanjang Ramadhan, secara langsung dan tidak langsung menjadi jalan memperkenalkan Islam kepada warga Korea. Persepsi awal bagi warga non-muslim Korea, menahan diri untuk tidak makan dan minum hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sedang menjalankan program diet ketat (penurunan berat badan) saja, dan dinilai seperti sebuah proses yang sangat sulit dan menyusahkan. Namun, dengan penjelasan bahwa puasa tidak hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum tetapi juga menjaga emosi, syahwat dan hal lain yang dapat mengurangi dan membatalkan ibadah puasa  serta menjelaskan keuntungan yang akan didapat dari menjalankan proses berpuasa ini, mereka menjadi paham dan sangat menghormati sekali proses berpuasa yang dijalani oleh umat Islam di sana.

Semoga dengan interaksi dan pengetahuan serta suasana semangat beribadah yang dilakukan oleh umat Islam di Korea sepanjang bulan Ramadhan semakin meningkatkan dakwah Islam di Negeri Ginseng itu. [Rohib]

Janganlah kamu tahan tanganmu untuk berinfaq karena takut miskin, sebab nanti Allah akan menyempitkan rizki bagimu.

(HR. Bukhari)

chat dengan kami via whatsapp