Kisah Seorang Dermawan yang Keluar dari Penjara

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Kamis, 1 November 2018 / ٢١ صفر ١٤٤٠
Credit: pixabay

Berangkatlah Ahmad bersama keluarga untuk melakukan perjalanan. Ahmad dan keluarga mengendarai mobil pribadi. Di tengah jalanan yang sepi, tiba-tiba mobil mogok. Ahmad berusaha memperbaiki dan menghidupkan mesin, namun semua gagal tanpa hasil. Tengok kanan-kiri, tidak ada pemukiman penduduk. Ahmad dan keluarga kebingungan. Mereka hanya bisa duduk berharap ada mobil lewat dan bisa membantu.

Pertolongan Allah tak lama dinanti. Tidak berselang lama, tiba-tiba berhenti sebuah mobil. Turun seorang bernama Hasan dan menawarkan bantuan.

“Apa yang terjadi dengan mobil Anda?”

Hasan dan Ahmad berusaha untuk menghidupkan mesin mobil. Terus-menerus mereka mencoba, tetapi mesin tak juga nyala. Merasa menyerah, Hasan akhirnya hanya bisa menawarkan agar mobilnya dibawa oleh Ahmad dan keluarga.

“Ini mobil saya, silakan Anda lanjutkan perjalanan Anda bersama keluarga. Saya tunggu mobil Anda di sini, sampai Anda membawa mobil derek dari kota tujuan Anda untuk membawa mobil ini,” ujar Hasan.

“Ini tidak masuk akal. Kamu bisa duduk di sini sekitar sepuluh jam,” timpal Ahmad.

Hasan tetap berusaha meyakinkan, “Tidak masalah. Saya sendirian, sedangkan Anda bersama keluarga.”

Setelah diyakinkan, Ahmad pun bersedia membawa mobil Hasan. Setelah mencatat nomor ponsel Hasan, Ahmad pun melaju menggunakan mobil Hasan bersama keluarganya.

Esok harinya, mobil Ahmad masuk bengkel dan dirinya mengembalikan mobil Hasan dan mengucapkan banyak terima kasih.

Waktu berlalu. Ahmad teringat kebaikan Hasan. Spontan Ahmad menelepon Hasan untuk sekadar menanyakan kabar.

Ternyata bukan kabar baik yang dia dengar.

“Hasan dipenjara,” ujar suara dari seberang telepon.

Istri dari Hasan menjelaskan bahwa suaminya dipenjara karena terjerat utang. Agar bisa bebas, Hasan mesti menebus utangnya.

Setelah mendapatkan informasi lengkap, Ahmad pun menuju penjara dengan membawa 100 ribu real (sekitar 270 juta rupiah). Sesamapinya di penjara, tanpa pikir panjang, uang itu langsung diserahkan ke penanggung jawab penjara.

“Ini untuk melunasi utang Hasan, segera lepaskan dia1” Pinta Ahmad.

“Siapa Anda?” tanya seorang sipir.

“Tidak perlu Anda tahu namaku.” Ahmad pun pergi.

Selang 20 hari, Ahmad menghubungi Hasan. Istrinya menjawab, “Dia masih dipenjara.”

Bergegas Ahmad menuju penjara dan menanyakan apa sebab Hasan belum dilepaskan.

“Utang Hasan 3 juta real, bukan seratus ribu,” ucap seorang sipir yang tempo hari.

Sebelum Ahmad sempat komentar, sang sipir berujar,

“Saya heran dengan keadaan Anda dan teman Anda. Dua orang yang saya anggap sangat aneh. Anda datang dengan memberikan 100 ribu real tanpa menyebutkan nama Anda. Sementara teman Anda yang dipenjara pun bersikap aneh. Setelah kuserahkan 100 ribu itu, dia bilang: ‘Uang 100 ribu ini tidak bisa membebaskan aku. Tolong berikan saja kepada teman-temanku yang dipenjara ini yang memiliki hutang 5 ribu atau 10 ribu real.’ Karena kebaikan si Hasan itu, ada 12 orang yang bebas.”

“Tidak masalah, semua baik insya Allah,” tukas Ahmad sebelum pulang.

Setelah sebulan, Ahmad berhasil mengumpulkan 3 juta real (sekitar 8,1 miliar rupiah), dari penghasilannya dan dari sumbangan donatur. Akhirnya Hasan, sang dermawan, bebas dari penjara.

Pernahkah Anda membayangkan Allah akan melupakan orang baik seperti Hasan dan Ahmad? Semangatnya untuk menolong saudaranya merupakan bentuk itsar yang Allah ajarkan dalam Al-Quran. Mendahulukan saudaranya dibandingkan diri sendiri. Dan karena sikap inilah, Allah memuji orang anshar, dan Allah sebut mereka sebagai orang yang muflih:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: "Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)

Usaha besar mereka tidak akan disia-siakan, karena Allah akan menolong orang yang baik.

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong orang yang baik.”

*Kisah ini nyata, namun nama dalam kisah ini bukan nama asli. Perubahan nama tidak mengubah alur dan inti kisah.

Menahan diri dari kejahatan adalah sedekah.

(HR. Bukhari)

chat dengan kami via whatsapp