Kekayaan dan Teladan Kedermawanan Sahabat Nabi

NUcare.id | ditulis oleh : Admin | Selasa, 21 Mei 2019 / ١٦ رمضان ١٤٤٠
Ilustrasi oleh: Jaliel

Oleh: Slamet Tuharie Ng*

Sudah banyak cerita sejarah perjuangan Islam, kisah-kisah di zaman Nabi yang sering kita dengar berbicara mengenai peperangan. Sebut saja Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan lainnya. Namun, masih sedikit kisah-kisah inspiratif yang belum disebarkan, yang tak melulu soal perang. Seperti yang akan saya ulas di sini, yang merupakan resume atas buku “Jejak Bisnis Sahabat Rasul; Sejarah Kesuksesan yang Terlupakan” karya Abdul Wadud Kasyful Humam yang diambil dari 89 referensi, baik kitab klasik maupun referensi kontemporer.

Kenapa saya megulas hal ini? Biar kita bersama mafhum, bahwa sahabat-sahabat Nabi adalah orang-orang yang sukses, tidak hanya dalam kehidupan politik kesukuannya, kehidupan keagamaannya, tapi juga sukses di bidang ekonomi.

Sederhananya, saya sampaikan, bahwa dahulu tokoh-tokoh yang berjuang untuk Islam itu memiliki kemapuan ekonomi yang sangat mapan. Tak hanya jadi milyader tapi juga triliyuner. Dengan harta yang dimilikinya itu, para sahabat berjuang untuk agama.

Dimulai dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Saw. Di samping karena ayahnya, Khuwailid bin Asad adalah orang yang kaya raya dan disegani di kalangan Quraisy, Sayyidah Khadijah juga adalah pribadi yang tekun dalam mengembangkan bisnisnya. Bahkan, bisnisnya tidak hanya di tingkat lokal, melainkan juga di luar Mekkah. Salah satunya ke Syam (Syria) yang salah satunya dijalankan oleh Nabi Muhammad Saw di masa mudanya.

Perlu diketahui bahwa kekayaan Sayyidah Khadijah adalah 2/3 kekayaan Mekkah saat itu. Ya, tentu itu jumlah yang banyak. Maka itu, kita tahu, Sayyidah Khadijah itu tidak hanya membantu secara moril dan pikiran, tapi jiwa-raga dan harta ia persembahkan untuk dakwah Nabi Saw.

Kemudian Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Dari mana asal kekayaannya? Abu Bakar adalah seorang pengusaha kain dan menjualnya di Pasar Baqi, Madinah. Aktivitas bisnisnya itu dilakukan ketika ia menjabat Khalifah di enam bulan pertama. Sampai akhirnya, Umar bin Khattab melarangnya, dan memintanya untuk tidak lagi berdagang dan fokus pada kepemimpin yang dimandatkan padanya.

Menurut Imam Jalaludin as-Suyuthi, ketika masuk Islam Abu Bakar memiliki kekayaan berupa uang tunai simpanan dari bisnisnya sebesar 400.000 Dinar atau setara dengan 9,35 milyar Rupiah. Di masa awal Islam Abu Bakar menginfakkan semua hartanya itu untuk dakwah Islam. Ketika hijrah ke Madinah kekayaannya senilai 981,7 juta.

Maka itu, ketika menjabat sebagai Khalifah, ia tetap berdagang dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sampai akhirnya dipaksa oleh Umar bin Khattab agar mau menerima gaji dari baitul maal sebesar 300 Dinar per tahun atau sekitar 59 juta Rupiah per bulan ditambah dengan seekor kambing utuh setiap hari. Akan teapi gaji tersbeut tidak semuanya ia terima. Hanya sedikit saja yang ia terima.

Suatu ketika, istri Abu Bakar memintanya untuk membelikan manisan, dan Abu Bakar tidak memiliki uang hingga akhirnya istrinya menabung sedikit demi sedikit untuk membeli manisan. Padahal, selama jadi khalifah ia menerima gaji dari baitul maal sekitar 39, 2 milyar Rupiah. Jumlah itu termasuk pendapatannya dari hasil pengelolaan tambang di Juhainah milik Bani Sulaim. Namun, nyatanya untuk membeli manisan saja Abu Bakar tidak mampu. Karena, gaji yang ia terima sudah dibagikan kepada rakyatnya.

Bagaimana dengan Umar bin Khattab? Sahabat Umar adalah pengusaha properti yang jumlahnya tidak main-main, 70.000 properti. Bahkan ia juga menganjurkan kepada semua pejabatnya agar menyisakan gaji untuk membeli tanah dan properti agar uang mereka tidak habis hanya untuk kebutuhan konsumtif. Ini salah satu bentuk perhatian Umar bin Khattab dalam masalah ekonomi, karena berjuang mengurus agama itu butuh bekal ekonomi yang tidak sedikit.

Ada satu quote yang bisa kita renungi bersama dari Umar bin Khattab, yaitu: Cukupilah dirimu, niscaya akan lebih terpelihara agamamu dan lebih mulia dirimu.”

Karena saking kaya rayanya Umar bin Khattab, belum ada yang tahu secara pasti berapa jumlah kekayannya. Ada beberapa riwayat, seperti yang disampaikan oleh Nafi’, salah satu pembantu Umar bin Khattab yang mengetahui bahwa satu orang ahli waris Umar menjual warisannya seharga 100.000 Dinar atau sekitar 235,8 milyar Rupiah. Jika ditaksir dengan jumlah ahli warisnya, baik laki-laki maupun perempuan, maka kemungkinan harta Umar bin Khattab sekitar 2,59 triliyun Rupiah. Itu pun belum termasuk piutangnnya yang mencapai 86.000 dinar. Ya, jumlahnya kurang lebih menjadi 2,8 triliyun Rupiah. Ada yang mengatakan, jumlah itu hanya uangnya saja, belum termasuk puluhan ribu properti yang dimiliki Sahabat Umar.

Uang sebanyak itu ia sedekahkan untuk perjuangan Nabi Saw. Seperti ketika Perang Tabuk, ia menyumbang sekitar 100 uqiyah emas atau setara dengan 6,6 milyar Rupiah. Nah, ketika ia menjabat sebagai Khalifah, ia diberikan gaji dari baitul maal sebesar 5.000 dirham/tahun atau sekitar 82 juta Rupiah per bulan. Namun gaji itu tidak diambil semuanya, tetapi dibagikan lagi kepada rakyatnya.

Bagaimana dengan kekayaan dan teladan kedermawanan sahabat Nabi yang lain? Insya Allah akan saya ulas di lain kesempatan.

*Manajer Program PP NU Care-LAZISNU

Pemberian nafkah kepada keluarganya adalah sedekah.

(HR. Bukhari)

chat dengan kami via whatsapp