Cindy, Inisiator Organisasi Difabel untuk Mahasiswa*

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Sabtu, 9 Juni 2018 / ٢٥ رمضان ١٤٣٩
Poster Juara 1 Sayembara Kisah Inspiratif NU Care-LAZISNU 2018.

Untuk siapapun terkasih yang membaca tulisanku ini dengan sukaria, aku akan menceritakan sebuah kisah. Nama lengkapku Cindy Ayu Anggraini. Cindy, namaku akrabku. Asalku dari Semarang, Jawa Tengah. Aku terlahir sebagai seorang perempuan, dengan cara hidup yang selalu mengandalkan visualiasi atau melalui indra penglihatan untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain. Aku memang mempunyai kedua telinga yang tampaknya normal-normal saja bagi semua orang, tetapi bagi orang-orang yang mengenalku lebih dekat akan tahu bahwa kedua telingaku tak pernah tersentuh oleh suara, oleh bunyi. Sunyi. Ya, benar adanya, aku tak pernah menikmati suara, meski berada di lingkungan yang gaduh sekali pun.

Ya, indra pendengaranku tak berfungi seperti umumnya orang. Karena itulah, indra penglihatanku kugunakan agar memiliki dwifungsi: sebagai alat melihat sekaligus untuk mendengar. Aku memang terlahir sebagai seorang yang memiliki keterbatasan dalam hidup. Tapi, ini yang akan kutekankan, bukan berarti hidupku terhambat karenanya. Dengan izin Sang Pencipta, Yang Maha Memiliki, aku terus berusaha untuk mengubah keterbatasanku menjadi ketidakterbatasan.

Saat ini, aku studi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Aku masuk kuliah berkat undangan istimewa dari Bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jateng untuk menekuni ilmu PLB (Pendidikan Luar Biasa). Dengan kesempatan itu, aku akan memenuhi mimpiku menjadi seorang dosen yang berbeda, atau menjadi apapun yang dapat memberi manfaat kepada siapapun, terutama yang memiliki keterbatasan seperti diriku. Seorang penyandang disabilitas atau difabel.

Saat pertemuan perdana UNS Difable Volunteer For Gerakan Peduli Pendidikan Inklusi Untuk Indonesia (UDV For GAPPAI), aku ditunjuk oleh Drs Subagyo, M.Si selaku Ketua LPPM UNS, untuk menjadi Ketua Umum UDV For GAPPAI.

Sebelumnya, akan kuceritakan asal muasal beridirinya UDV For GAPPAI. Ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus Sebelas Maret, aku berpikir dapat mengikuti kegiatan kuliah dengan baik. Namun, ketika memasuki hari pertama kuliah, ternyata berbeda jauh dengan apa yang kupikirkan.

Di saat itulah aku mengalami kendala, terutama tentu dalam hal komunikasi. Beruntung, aku memiliki kawan baru yang juga berasal dari Semarang, yakni Nindya dan Destya. Mereka, kedua kawanku itu, sangat antusias untuk menguasai bahasa isyarat versi Bisindo denganku. Mereka juga selalu membantuku menyampaikan dan menerjemahkan apa yang disampaikan oleh dosen ketika ada jam kuliah.

Di samping itu, aku juga berkenalan dengan Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo. Namanya Bima. Kebetulan ia juga memiliki kekurangan seperti diriku. Ia satu kampus denganku namun beda fakultas. Kami saling berbagi pengalaman; suka-duka menjadi mahasiswa UNS. Bukan hanya Bima yang tergolong mahasiswa difabel di UNS, tapi ada juga teman sekelasku, kakak kelas, dan mahasiswa lain yang beda fakultas. Totalnya ada 25 mahasiswa difabel di UNS dengan kekurangan yang berbeda-beda.

Berkat berkenalan, berbagi cerita dengan mereka para difabel aku mendengar banyak kisah. Sepenggal kisah yang kudapatkan dari mereka rata-rata mengandung keluhan atas minimnya aksesibilitas bagi mereka di kampus. Keberadaan mereka kerap dianggap sama rata dengan mahasiswa lainnya yang bukan difabel. Akhirnya, kurang mengundang perhatian dan pengertian. Tak jarang, pandangan orang-orang di sekitar terhadap mahasiswa difabel seolah tidak ada. Aku mengerti benar apa yang dirasakan oleh mereka, kawan-kawan difabel. Di samping itu, mereka juga sering merasa kesulitan memperoleh informasi yang akurat, maka mereka membutuhkan pendampingan selama perkuliahan agar tidak ketertinggalan serta sebagai mahasiswa difabel yang keberadaannya harus diakui.

Pada titik itulah, otakku berpikir untuk membangun sebuah organisasi difabel di kampusku.

Aku mengusulkan sebuah organisasi dengan istilah UNS Difable Volunteer atau disingkat UDV. Sejak itu, aku mencari-cari informasi tentang bagaimana cara mewujudkan sebuah organisasi yang menyediakan layanan khusus dan memberikan aksesibilitas bagi mahasiswa difabel. Untuk tambahan informasi dan dalam upaya mencari dukungan, aku bertanya dan memohon pendapat kepada pihak kampus.

Kulakukan itu dalam waktu berbulan-bulan, mondar-mandir kesana-kemari cari informasi dan partisipasi dari banyak orang yang kiranya memiliki kepedulian kepada kaum difabel. Saat itu, aku hampir saja putus asa. Karena kegiatan itu sedikit banyak memakan jadwal kuliahku. Ditambah lagi tidak banyak orang yang ternyata sulit untuk bekerjasama denganku. Bahkan sebagian memberi syarat yang bagiku berat agar aku bisa mendirikan organisasi difabel.

Ternyata, dari beberapa orang yang kujumpai, sedikit sekali dari mereka yang memahami kehidupan mahasiswa difabel. Tapi, dalam benakku, aku harus mampu mewakili dan meminimalisir keluhan dari kawan-kawanku mahasiswa difabel. Saat itu juga aku berpikir, dengan kesungguhan hati aku akan menemukan cara agar aku berhasil menyuarakan isi hati mereka kawan-kawanku.

Di waktu hatiku itu sedang mantap, aku mendapat informasi yang bagiku itu adalah titik terang. Seberkas cahaya. Jadi, dulu itu di UNS ada yang namanya Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) yang dinamai Gerakan Peduli Pendidikan Inklusi Untuk Indonesia yang kemudian disingkat GAPPAI. Tapi, entah mengapa, PSLD atau GAPPAI itu tidak mampu bertahan lama hingga akhirnya tidak aktif. Di situlah aku optimis untuk kembali mengaktifkannya, entah bagaimanapun caranya.

Hingga setahun kemudian, tepatnya ketika aku naik tahun ke-2 atau semester empat, dengan kuasa Yang Maha Kuasa akhirnya gagasan atau cita-citaku itu terwujud: aku mendapat persetujuan dari Rektor UNS, Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S.

Aku bersyukur, harapanku dapat terkabul. Aku senang bukan kepalang; keinginanku untuk mendirikan sebuah organisasi difabel tercapai sudah. Hanya saja memang istilah atau nama organisasi yang kuusulkan itu ditambah sedikit oleh Rektor UNS, menjadi UDV For GAPPAI (UNS Difable Volunteer For Gerakan Peduli Pendidikan Inklusi Untuk Indonesia).

Bagiku, apapun istilahnya bukanlah persoalan. Yang terpenting adalah organisasi itu bisa terwujud. Kawan-kawanku sesama difabel bisa terbantu aksesibiltasnya dengan perantara para relawan.

Sejujur-jujurnya, entah bagaimana sakit hatiku jika benar aku tak berhasil memenuhi harapan mereka. Bagiku, mereka yang memiliki kekurangan sepertiku, adalah keluargaku sendiri.

Kalian tahu, di tengah perjuanganku itu untuk membangun organisasi difabel, pipiku sempat basah di antara doa-doa yang kupanjatkan kepada Allah SWT,

“Ya Tuhanku, jika memang aku tak berhasil mewujudkan apa yang menjadi harapan mereka kawan-kawanku yang memiliki keterbatasan, mohon maafkan aku. Sebagai gantinya, berilah rezeki yang lapang kepada mereka. Aku berharap pada-Mu.”

Sekian cerita dariku. Sebelum mengakhirinya, aku ingin berpesan kepada siapa pun yang membaca tulisan ini. Pesanku adalah: Tiada satu pun manusia sempurna di muka bumi ini. Karena, kita tahu, kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Banyak sekali manusia yang memiliki kekurangan, maka dari itu bersyukurlah dengan apa yang kau miliki saat ini. Manusia memang diciptakan berbeda-berbeda, tetapi kedudukannya sama. Semuanya sama-sama manusia, yang berbeda justru tingkat iman dan takwanya kepada Sang Pencipta. Kelebihan yang Allah berikan hanya sebagai ujian dalam hidup untuk menguji seberapa besar seseorang bersyukur, namun kekurangan yang Allah berikan adalah untuk mengajarkan seseorang agar menyerahkan segala yang dimilikinya serta berusaha mengubah kekurangannya itu menjadi sebuah kelebihan. Bermimpilah, dan teruslah berjuang mewujudukannya jadi keniscayaan.

Aku berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian di manapun berada, karena mau menyempatkan waktu untuk membaca kisahku ini. Semoga Allah SWT melapangkan rezeki untuk kalian semua. Amiin Yaa Rabbal 'alamiin...

*Cindy Ayu Anggraini, asal Semarang. Tercatat sebagai mahasiswa difabel di Universitas  Negeri Sebelas Maret Surakarta​ (UNS), semester 4, Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Meski dengan keterbatasan, Cindy telah berhasil menorehkan 9 prestasi akademik tingkat nasional dalam hidupnya saat ini.

Potret Cindy Ayu Anggraini.

Menahan diri dari kejahatan adalah sedekah.

(HR. Bukhari)

chat dengan kami via whatsapp