Belajar Syukur dari Kisah Tukang Sapu di Istana

NUcare.id | ditulis oleh : Admin | Jumat, 21 Juni 2019 / ١٧ شوال ١٤٤٠
Ilustrasi: NU Care-LAZISNU

Alkisah, ada seorang raja yang mempunyai pola tidur tidak baik. Ia sendiri tidak tahu pasti apa sebabnya. Kebutuhan hidup dari sisi materi selalu tercukupi, bahkan lebih dari cukup. Hanya satu yang menjadi problem baginya, ia tidak bisa tidur pulas melewati malam-malamnya.

Pada satu saat, di tengah kegelisah malam sang raja, kedua kelopak matanya menatap luar jendela ruangannya. Di luar sana, tampak tukang sapu sedang menikmati pekerjaannya. Ia pungut sampah-sampah yang terserak di lingkungan istana. Menurut pandangan raja, tukang sapu ini seolah tak punya beban apa-apa walaupun kehidupannya tidak bergelimang harta. Sedangkan raja sendiri merasa belum bisa mendapatkan kenyamanan hidup sebagaimana yang dirasakan oleh seorang tukang sapu yang dilihatnya itu. 

Tiba-tiba sang raja merasa ingin membahagiakan Pak Tukang Sapu. Raja memberikan hadiah 100 keping emas kepada tukang sapu melalui ajudannya. 

Dengan terbungkus rapi, ajudan raja memberikan benda yang telah diamanatkan kepadanya. Pak Tukang Sapu sangat-sangat terkejut, dan tentunya bahagia. Melalui ajudan raja, Pak Tukang Sapu itu menyampaikan banyak terima kasih.Setelah hadiah diterima tukang sapu, sang ajudan segera undur diri dan baru kemudian tukang sapu menghitungnya. 

Namun, setelah ia membuka bungkus pemberian raja, betapa terkejutnya ia bahwa kepingan emas yang ia hitung berulang kali itu hanya berjumlah 99 keping. Ia tidak mengerti. Apakah stau keping emas itu hilang, terjatuh. Tukang sapu mencari ke sana kemari kekurangan satu keping dan sampai beberapa hari tidak juga ia temukan. 

Tukang sapu tidak bisa memastikan kurang atau hilangnya satu keping emas emas itu. Rajanya salah hitung? Atau ajudannya tidak amanah? Atau mungkin di tangan ia sendiri sesaat sebelum ia menghitung itu ada yang tercecer hilang? Ia terus berpikir. Ia dirundung kegelisahan sampai-sampai ia tidak tampak masuk kerja di istana. Sampai beberapa ia tidak masuk kerja.

Sang raja menyadari ketiadaan Tukang Sapu. Sejak ia memberikan kepingan emas melalui ajudan, tukang sapu tersebut tidak tampak lagi bekerja. Raja coba mencari tahu apa yang terjadi pada si tukang sapu tersebut. 

“Ada apa dengan tukang sapu yang kemarin kamu kasih 100 keping emas itu sehingga ia beberapa hari ini tidak tampak masuk kerja?" Tanya Raja kepada ajudan. 

“Maaf, Baginda. Hamba kemarin ingin menguji tukang sapu tersebut. Dari 100 keping yang diberikan Baginda, ada satu keping yang hamba simpan sementara. Hal ini hanya dalam rangka untuk mengujinya," kata ajudan. 

Namun, lanjut ajudan, tukang sapu itu ternyata sampai hari ini masih sibuk memikirkan satu keping emas yang hilang. Sampai ia tidak masuk kerja. Ia tampak tidak mensyukuri 99 keping yang ada.

Demikian kisah disampaikan oleh Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf sesaat sebelum memulai kasidah pada acara yang bertajuk Jateng Bershalawat, di Lapangan Simpang Lima Kota Semarang, beberapa waktu yang lalu. 

Habib Syech menceritakan kisah tersebut sebagai bahan introspeksi warga Indonesia. Bangsa Indonesia dikarunia dengan limpahan kenikmatan oleh Allah Swt. Tinggal bagaimana mensyukurinya. Habib Syech mengibaratkannya seperti 99 keping emas. Menurutnya, dunia mana yang bisa tampil sempurna? Sebagian masyarakat Indonesia sekarang cenderung sibuk meributkan satu keping emas yang hilang, sampai lupa mensyukuri 99 keping emas yang ada. Apakah itu salah satu bentuk tidak atau kurang syukur atas anugerah Allah Swt kepada kita yang hidup dengan keindahan dan ketenteraman di bumi Indonesia. Wallahu a’lam. [Ahmad Mundzir]

Janganlah kamu berkarung-karung (kamu kumpulkan harta dalam karung lalu kamu kikir untuk menginfakkannya) sebab Allah akan menyempitkan rizki bagimu dan berinfaklah dengan ringan sebatas kemampuanmu.

(HR. Bukhari)

chat dengan kami via whatsapp