Al-Farabi, Filsuf Kenamaan yang Dermawan

NUcare.id | ditulis oleh : hadi | Sabtu, 19 Januari 2019 / ١٢ جمادى الأولى ١٤٤٠
credit: tarizaa.blogspot.com

Al-Farabi dianggap sebagai filsuf Islam pertama yang dengan semangat dan kesungguhan mengkaji filsafat Yunani klasik. Ia punya kemampuan untuk memahami, menjabarkan, serta memperbandingkan filsafat Yunani klasik Plato dan Aristoteles dengan filsafat Islam.

Hal itu membuatnya dianggap sebagai salah satu filsuf kaliber dunia. Ia punya julukan terhormat: The Second Master atau Guru Kedua setelah Aristoteles. Lalu, siapakah sebenarnya Al-Farabi ini?

Al-Farabi memiliki nama asli Abu Nasr Ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh. Filsuf kenamaan muslimin yang juga piawai memainkan musik ini dilahirkan di sebuah desa bernama Wasij yang merupakan distrik dari kota Farab. Al-Farabi dilahirkan pada  tahun 257 H/870 M.

Saat ini, kota Farab dikenal dengan nama kota Atrar atau Transoxiana. Ayahnya adalah seorang jendral dan seorang Iran yang menikah dengan wanita Turkistan dan kadang-kadang disebut keturunan Iran.

Sejak kecil, Al-Farabi dikenal sebagai anak yang suka belajar, rajin, cerdas, serta memiliki kemampuan untuk menguasai berbagai bahasa. Ia mahir berbahasa Iran, Turkestan, dan Kurdistan.

Ketika usianya menginjak dewasa, Al-Farabi hijrah ke Baghdad yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan. Di Baghdad, ia belajar kepada Abu Bakar Al-Saraj untuk mempelajari kaidah bahasa Arab, dan kepada Abu Bisyr Mattius Ibnu Yunus (seorang kristen) untuk belajar logika dan filsafat.

Selanjutnya, ia hijrah ke Harran yang merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil dan belajar kepada Yuhanna Ibnu Jailan. Kemudian, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam filsafat. Pada akhirnya ia bersua dengan para filsuf dan ilmuwan senior seperti Al-Kindi dan Ar Razi.

Al-Farabi merupakan orang pertama yang memadukan ilmu logika dalam kebudayaan Arab. Tak heran bila ia kemudian disebut sebagai filsuf terbesar kaum muslimin. Bahkan, di mata dunia, derajatnya dikenal sebagai guru kedua setelah Aristoteles seperti tersebut di atas.

Pemikirannya yang terkenal mengenai filsafat, adalah filsafat emanasi ketuhanan. Ada juga pendapatnya tentang filsafat kenabian. Menurut Al-Farabi, kenabian adalah sesuatu yang diperoleh oleh para Nabi dan Rasul tanpa melalui upaya diri mereka.

Sebab, jiwa para Nabi dan Rasul memang telah siap menerima ajaran-ajaran Tuhan. Juga konsepnya tentang filsafat kenegaraan yang tertuang dalam kitabnya Al-Madinah Al-Fadhilah.

Al Farabi berada di Baghdad lebih dari 40 tahun (901-942 M). Selama berada di kota itu,  ia benar-benar menyibukkan dirinya belajar, kemudian menulis karya-karya mengenai bidang filsafat, serta menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani.

Al-Farabi adalah seorang  penulis yang sangat produktif. Namun sebagian karyanya hilang entah kemana dan sampai sekarang belum diketahui naskah-naskahnya. Meskipun begitu, sebagian karyanya berhasil dihimpun dan sampai sekarang masih bisa dibaca.

Karya-karya tersebut antara lain, Al Jami’u Baina Ra’yai Al Hakimain Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (Pertemuan/Penggabungan Pendapat Antara Plato dan Aristoteles), Tahsilu as Sa’adah (Mencari Kebahagiaan), As Suyasatu Al Madinah (Politik Pemerintah), Fususu Al Taram (Hakikat Kebenaran), Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (Pemikiran-Pemikiran Utama Pemerintah), As Syisyah (Ilmu Politik), Ihsho’u Al Ulum (Kumpulan Berbagai Ilmu), Al Musiqi Al Kabir (buku ini memaparkan prinsip dasar musik, teori dan praktiknya), Ihsha’u Al Iqa, Kalam Fi Al Musiqi, Ihsha’u Al Ulum Wa At Ta’rif Bi Aghradhiha (Statistik Ilmu dan Intisari Buku Metafisika), Ara’ Ahlu Al Madinah Al Fadhilah, Jawami As-Siyasah, Nushus Al Hukmi, dan lain-lain.

Selanjutnya, setelah lama di Baghdad, Al-Farabi akhirnya pindah ke Damaskus. Di sana ia berkenalan dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Alleppo.

Akhirnya Al-Farabi diberi kedudukan menjadi ulama istana. Walaupun sudah diangkat menjadi ulama penting, Al-Farabi selalu hidup sederhana dan menggunakan sebagian besar hartanya untuk beramal dan dibagikan kepada fakir miskin di Alleppo dan Damaskus.

Al-Farabi (dalam Rahmat Allah) wafat pada usia 80 tahun di Alleppo pada tahun 950 M. Semoga kita setidaknya dapat meneledani, meski sezarah, dari kehausannya akan ilmu dan kedermawanannya kepada golongan fuqara wal masakin. Amin.

“Dan belanjakan (harta bendamu) di jalan Allah dan jangan kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. Albaqarah: 195)

chat dengan kami via whatsapp